Imah Pembantuku

Hari kelima, pagi-pagi sekali, aku hampir tidak tahan. Aku melihat Imah keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan handuk di tubuhnya. Dia tidak melihatku. Kemaluanku langsung mengeras. Bayangkan saja, ketika istri sedang tidak ada, seorang gadis manis memamerkan keindahan tubuhnya sedemikian rupa. Maka, diam-diam aku menghampiri begitu dia masuk kamar.

Aneh, pintu kamarnya tidak ditutup rapat. Aku dapat melihat ke dalam dengan jelas melalui celah pintu selebar kira-kira satu centi. Apa yang kusaksikan di kamar itu membuat jantungku memompa tiga kali lebih cepat, sehingga darahku menggelegak-gelegak dan nafasku memburu. Aku menelan ludah beberapa kali untuk menenangkan diri.

Nampak olehku Imah sedang duduk di tepian ranjang. Handuk yang tadi meliliti tubuhnya kini tengah digunakannya untuk mengeringkan rambut, sementara tubuhnya dibiarkannya telanjang bulat. Sepasang buah dadanya yang montok berguncang-guncang. Lalu ia mengangkat sebelah kakinya dengan agak mengangkang untuk memudahkannya melap selangkangannya dengan handuk. Dari tempatku mengintip, aku dapat melihat rerumputan hitam yang tidak begitu lebat di pangkal pahanya.

Saat itu setan-setan memberi petunjuk kepadaku. Mengapa dia membiarkan pintunya sedikit terbuka seperti ini? Setelah menyaksikan aku bermain cinta dengan istriku, tidak mustahil kalau dia sengaja melakukan ini untuk memancing birahiku. Dia pasti menginginkan aku masuk Dia pasti akan senang hati menyambut kalau aku menyergap tubuhnya di pagi yang dingin seperti ini…

Ketika kemudian dia meremas-remas sendiri kedua payudaranya yang montok, sementara mukanya menengadah dengan mata terpejam, aku benar-benar tidak tahan lagi. Batang kemaluanku seakan berontak saking keras dan panjang, menuntut dilampiaskan hasratnya. Tanganku langsung meraih handle karena aku sudah memutuskan untuk masuk…

Pada saat itu tiba-tiba terdengar anakku menangis. Aku jadi sadar, lekas-lekas aku masuk ke kamar anakku. Tak lama kemudian Imah menyusul, dia mengenakan daster batik yang terbuka pada bagian pundak. Kurang ajar, pikirku, anak ini tahu betul dia punya tubuh indah. Otomatis batang kemaluanku mengeras kembali, tapi kutahan nafsuku dengan susah payah.

Alhasil, pagi itu tidak terjadi apa-apa. Aku keluar rumah untuk menghindari Imah, atau lebih tepatnya, untuk menghindari nafsu birahiku sendiri. Hampir tengah malam, baru aku pulang. Aku membawa kunci sendiri, jadi kupikir, Imah tidak akan menyambutku untuk membukakan pintu. Aku berharap gadis itu sudah tidur agar malam itu tidak terjadi hal-hal yang negatif.

Tetapi ternyata aku keliru. Imah membukakan pintu untukku. Dia mengenakan daster yang tadi pagi. Daster batik itu berpotongan leher sangat rendah, sehingga punggungnya yang putih terbuka, membuat darahku berdesir-desir. Lebih-lebih belahan buah dadanya sedikit mengintip, dan sebagian tonjolannya menyembul. Rambutnya yang ikal sebahu agak awut-awutan. Aku lekas-lekas berlalu meninggalkannya, padahal sejujurnya saat itu aku ingin sekali menyergap tubuh montoknya yang merangsang.

Sengaja aku mengurung diri di dalam kamar sesudah itu. Tapi aku benar-benar tidak dapat tidur, bahkan pikiranku terus menerus dibayangi wajah manis Imah dan seluruh keindahan tubuhnya yang mengundang. Entah berapa lama aku melamun, niatku untuk meniduri Imah timbul-tenggelam, silih berganti dengan rasa takut dan malu. Sampai tiba-tiba aku mendengar suara orang meminta-minta tolong dengan lirih…

Tanpa pikir panjang, aku langsung melompat dari ranjang dan segera berlari ke arah suara. Ternyata itu suara Imah. Sejenak aku berhenti di muka pintu kamarnya, tetapi entah mengapa, kini aku berani masuk.

Kudapati Imah tengah meringkuk di sudut ranjang sambil merintih-rintih lirih. Aku tercekat memandangi tubuhnya yang setengah telanjang. Daster yang dikenakannya tersingkap di sana-sini, memamerkan kemulusan pahanya dan sebagian buah dadanya yang montok. Sejenak aku mematung, menikmati keindahan tubuh Imah yang tergolek tanpa daya di hadapanku, di bawah siraman cahaya lampu kamar yang terang benderang. Otomatis kelelakianku bangkit. Hasratku kian bergelora, nafsu yang tertahan-tahan kini mendapat peluang untuk dilampiaskan. Dan setan-setan pun membujukku untuk langsung saja menyergap. “Dia tidak akan melawan,” batinku. “Jangan-jangan malah senang, karena memang itu yang dia harapkan…” Kuteguk liurku berulang-ulang sambil mengatur nafas. Untuk sesaat aku berhasil mengendalikan diri. Kuraih pundak Imah, kuguncang-guncang sedikit agar dia terbangun.

Gadis itu membuka mata dengan rupa terkejut. Posisinya menelentang kini, sementara aku duduk persis di sisinya. Jantungku bergemuruh. Dengan agak gemetar, kutepuk-tepuk pipi Imah sambil berupaya tersenyum kepadanya.

“Kamu ngigo’ yaa?” godaku. Imah tersipu.

“Eh, Bapak?! Imah mimpi serem, Pak!”

Suaranya lirih. Gadis itu bangkit dari tidurnya dengan gerakan agak menggeliat, dan itu malah membuat buah dadanya semakin terbuka karena dasternya sangat tidak beraturan. Aku jadi semakin bernafsu.

“Mimpi apaan, Mah?” tanyaku lembut.

“Diperkosa…!” jawab Imah sembari menunduk, menghindari tatapanku.*

“Diperkosa siapa?”

“Orang jahat! Rame-rame!”

“Oooh… kirain diperkosa saya!”

“Kalau sama Bapak mah nggak serem…!”

Aku jadi tambah berdebar-debar, birahiku semakin membuatku mata gelap. Kurapikan anak-anak rambut Imah yang kusut. Gadis itu menatapku penuh arti. Matanya yang bulat memandangku tanpa berkedip. Aku jadi semakin nekad.

“Kalau sama saya nggak serem?” tanyaku menegaskan dengan suara agak berbisik sambil mengusap pipi Imah. Babu manis itu tersenyum.

Entah siapa yang memulai, tahu-tahu kami sudah berciuman. Aku tidak peduli lagi. Kusalurkan gejolak birahi yang selama ini tertahan dengan melumat bibir Imah. Dia membalas dengan tak kalah panas dan bernafsu. Dia bahkan yang lebih dahulu menarik tubuhku sehingga kami rebah di atas ranjang sembari terus berciuman.

Tanganku lasak meremas-remas buah dada Imah. Kupuaskan hasratku pada kedua gundukan daging kenyal yang selama beberapa hari terakhir ini telah menggodaku. Imah pun tak tinggal diam. Sambil terus membalas lumatanku pada bibirnya, tangannya merayap ke balik celana pendek yang kukenakan. Pantatku diusap-usap dan diremasnya sesekali dengan lembut.*

Ketika ciuman terlepas, kami berpandangan dengan nafas memburu. Imah membalas tatapanku dengan agak sayu. Bibirnya merekah, seakan minta kucium lagi. Kusapu saja bibirnya yang indah itu dengan lidah. Dia balas menjulurkan lidah sehingga lidah kami saling menyapu. Kemudian seluruh permukaan wajahnya kujilati. Imah diam, hanya tangannya yang terus merayap-rayat di balik celana dalamku.

Aku jadi tambah bernafsu. Lidahku merambat turun ke leher. Imah menggelinjang memberi jalan. Terus kujilati tubuhnya yang mulai berkeringat. Imah menggelinjang-gelinjang hebat ketika buah dadanya kujilati. “Geliii..” desisnya sambil mengikik-ngikik, dan itu malah membuatku tambah bernafsu. Daging-daging bulat montok itu terus kujilati, kukulum putingnya, kusedot-sedot dengan rakus, tentunya sambil kuremas-remas dengan tangan.

Payudara Imah yang lembut kurasa semakin mengeras, pertanda birahinya kian meninggi. Lebih-lebih putingnya yang mungil berwarna merah jambu, telah amat keras seperti batu. Aku jadi semakin bersemangat. Sesekali mulutku merayap-rayap menciumi permukaan perut, pusar dan turun mendekati selangkangannya.

Imah mulai merintih dan meracau, sementara tangannya mulai berani meraba batang kemaluanku yang telah menegang sedari tadi. Kurasakan pijitannya amat lembut, menambah rangsangan yang luar biasa nikmat. Aku tidak tahan, tanganku balas merayap ke balik celana dalamnya. Imah mengangkang, pinggulnya mengangkat. Kugosok celah vaginanya dengan jari. Basah. Dia mengerang agak panjang ketika jari tengahku menyelusup ke dalam liang vaginanya, batang penisku digenggamnya erat dengan gemas. Aku semakin tidak tahan, maka kubuka celana pendek dan celana dalamku sekaligus.

Imah langsung menyerbu begitu batang kemaluanku mengacung bebas tanpa penutup apa pun lagi. Dengan posisi menungging, digenggamnya batang kemaluanku, lalu dijilat-jilatnya ujungnya seperti orang menjilat es krim. Tubuhku seperti dialiri listrik tegangan tinggi. Bergetar, nikmat tak terkatakan.

“Imah udah tebak, pasti punya Bapak gede…” desis Imah tanpa malu-malu.

“Isep, Mah…!” kataku memberi komando.

Tanpa menunggu diminta dua kali, Imah memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya.

“Enak, Mah… enak banget…,” aku mendesis lirih, sementara tubuhku menggeliat menahan nikmat.

Imah semakin bersemangat mengetahui betapa aku menikmati hisapannya pada penisku. Batang kemaluanku dikocok-kocoknya dengan amat bernafsu sementara mulutnya mengulum dengan gerakan maju mundur. Sesekali lidahnya menjulur menjilat-jilat. Pintar sekali.

Belakangan baru kuketahui bahwa Imah itu seorang janda. Dia dipaksa kawin sejak usia 14 dengan lelaki berumur yang cukup kaya di desa. Ternyata suaminya seorang pemabuk, penjudi, dan mata keranjang. Satu-satunya yang disukai Imah dari lelaki itu adalah keperkasaannya di atas ranjang. Hanya itu yang membuatnya sanggup bertahan empat tahun berumah tangga tanpa anak. Baru setahun yang lalu suaminya meninggal, sehingga statusnya kini resmi menjadi janda.

Pantas saja nafsunya begitu besar. Dia mengaku bahwa hasrat seksualnya langsung bangkit kembali sejak pertama kali bertemu aku. Kenangan-kenangannya tentang kenikmatan bermain cinta terus menggodanya, sehingga diakuinya bahwa sejak hari itu dia terus berusaha untuk menarik perhatianku.*

Nafsu yang menggebu-gebu, serta hasrat yang terpendam berhari-hari, membuat gadis itu menjadi liar tak terkendali. Sambil terus mengulum dan menjilat-jilat batang kemaluanku, tubuhnya beringsut-ingsut hingga mencapai posisi membelakangi dan mengangkangi tubuhku. Pantatnya yang bulat, besar seperti tampah, tepat berada di depan wajahku. Kuusap-usap pantatnya, lalu kuminta lebih mendekat sambil kuturunkan celana dalamnya. Dia menurut, diturunkannya pinggulnya hingga aku dapat mencium selangkangannya.

Terdengar dia mendesis begitu kujulurkan lidahku menyapu permukaan liang vaginanya yang merekah basah. Kedua pahanya mengangkang lebih lebar, sehingga posisi pinggulnya menjadi lebih ke bawah mendekati mukaku. Kini aku lebih leluasa mencumbu kemaluannya, dan aku tahu, memang itu yang diharapkan Imah.

Kusibakkan bulu-bulu halus di seputar selangkangan babu cantik yang ternyata mempunyai libido besar itu. Kugerak-gerakkan ujung lidahku pada klitorisnya. Kuhirup baunya yang khas, lalu kukenyot bibir vaginanya dengan agak kuat saking bernafsu. Imah merintih. Tubuhnya sedikit mengejang, hisapannya pada kemaluanku agak terhenti.

“Jangan berhenti dong, Maaaahh,” desisku sambil terus menjilat-jilat vaginanya.

“Imah keenakan, Pak…” jawab Imah terus terang. Lalu kembali dia mengulum sambil mengocok-ngocok batang kemaluanku. Dengan bernafsu dia terus berusaha menjejal-jejalkan batang penisku sepenuhnya ke dalam mulutnya, tetapi tidak pernah berhasil karena ukuran tongkat wasiatku itu memang cukup luar biasa: gemuk, dan panjangnya hampir 20 cm!

Aku membalas dengan merekahkan mulut vaginanya dengan kedua tangan. Lubang surgawi itu menganga lebih lebar, maka kujulurkan lidahku lebih ke dalam. Imah membalas lagi dengan menghisap-hisap batang kemaluanku lebih cepat dan kuat. Aku tak mau kalah, kutekan pantatnya hingga kemaluannya menjadi lebih rapat pada mukaku, lalu kujilat dan kuhisap seluruh permukaan liang kemaluannya.

“Ooooohhh… Imah nggak kuattt….” terdengar Imah mengerang tiba-tiba. Aku tak peduli. Aku justru jadi semakin bersemangat dan bernafsu mencumbu kemaluan Imah. Gadis itu juga kian liar. Tangan dan mulutnya semakin luar biasa cepat mengerjai batang kemaluanku, sementara tubuhnya menggeliat-geliat tak terkendali. Aku tahu birahinya telah teramat sangat tinggi, maka kukomandoi dia untuk rebah menelentang, lalu segera kutindihi tubuh montoknya.*

“Enak, Mah?” tanyaku.

“Enak banget, Pak… Imah nggak tahan…”

“Kamu mau yang lebih enak, kan?”

“Ya mau, dong…” Imah nampak masih sedikit malu-malu, tapi jelas dia tidak dapat lagi mengontrol nafsunya. Wajahnya yang biasanya lugu, kini nampak sebagai perempuan berpengalaman yang sedang haus birahi.

“Kamu pernah ngentot, Mah?” tanyaku lembut, takut dia tersinggung. Tapi dia malah tersenyum, cukup bagiku sebagai pengakuan bahwa dia memang sudah pernah melakukan itu.

“Kamu mau?” tanyaku lagi. Imah menutup matanya sekejap sebagai jawaban.

“Buka dulu dasternya, ya?”

Dalam sekejap, Imah telah bertelanjang bulat. Aku juga membuka kaos, sehingga tubuh kami sama-sama bugil. Polos tanpa sehelai benang pun. Imah memintaku mematikan lampu kamar, tapi aku menolak. Aku justru senang menonton keindahan tubuh Imah di bawah cahaya lampu yang terang benderang begitu.

”Malu, ah, Pak…” kata Imah dengan nada manja, sementara aku memandangi sepasang payudaranya yang bulat, besar dan padat.

“Saya naksir ini sejak pertama kamu masuk,” kataku terus terang sambil mengecup puting susunya yang sebelah kanan, disusul dengan yang sebelah kiri.*

“Imah tau,” jawab Imah tersipu. “Tapi Imah pikir, Bapak mana mau sama Imah?!”

“Sejak hari pertama, saya udah ngebayangin beginian sama kamu.”

“Kok sama sih?! Imah juga…”

“Bohong!”

“Sumpah! Apalagi abis liat Bapak gituan sama Ibu… Seru banget, Imah jadi ngiri…”

“Kamu ngintip, ya?”

“Bapak juga tau, kan?”

Sambil berkata begitu, tangan kanan Imah menggenggam batang penisku. Kedua pahanya mengangkang memberi jalan dan pinggulnya mengangkat sedikit. Digosok-gosokkannya ujung batang kemaluanku pada mulut vaginanya yang semakin basah merekah.

Aku membalas dengan menurunkan pinggulku sedikit. Saat itu di benakku terlintas wajah istri dan anakku, tetapi nafsu untuk menikmati surga dunia bersama Imah membuang jauh-jauh segala keraguan. Bahkan birahiku semakin bergelora begitu aku memandang wajah Imah yang telah sedemikian sendu akibat birahi.*

“Paaak….” terdengar desis suara Imah memanggilku teramat lirih. Kedua tangannya mengusap-usap sambil sedikit menekan pantatku, sementara batang penisku telah penetrasi sebagian ke dalam vaginanya.*

Kutekan lagi pinggulku lebih ke bawah. Batang penisku bergerak masuk inci demi inci. Kurasakan Imah menahan nafas. Kutahan sejenak, lalu perlahan justru kutarik sedikit pinggulku. Imah membuang nafas. Kedua tangannya mencengkeram pantatku. Aku mengerti, kutekan lagi pinggulku. Kembali Imah menahan nafas. Dua tiga kali kuulang seperti itu. Setiap kali, kemaluanku masuk lebih dalam dari sebelumnya. Dan itu membuat Imah keenakan. Dia mengakuinya terus terang tanpa malu-malu. “Bapak pinter banget…” desisnya sambil mencubit pantatku, sesaat setelah aku menekan semakin dalam. Batang penisku telah hampir amblas seluruhnya. Imah cukup sabar menikmati permainanku, tetapi akhirnya dia tidak tahan.

“Imah rasanya kayak terbang…” dia meracau.

“Kenapa?”

“Enakh… Masukin semua atuh, Paak… supaya lebih enak…” Berkata begitu, tiba-tiba kedua tangannya merangkul dan menarik leherku. Diciuminya mukaku dengan penuh nafsu.

“Imaaaahhh.” bisikku sambil membalas menjilat-jilat permukaan wajahnya.

“Paak…”

Aku jadi ikut-ikutan tidak tahan, ingin segera menuntaskan permainan. Maka dengan agak kuat kutekan pantatku dalam-dalam, sehingga batang kemaluanku terbenam sepenuhnya di liang vagina Imah. Anak itu mengerang lirih, “Ssshhh…. aaaahhhh…, sssssssshhhh….., aaaaaaaahhhh….”

Dalam beberapa menit, kami bersanggama dalam posisi konvensional. Aku di atas, Imah di bawah. Itu pun sudah teramat sangat luar biasa nikmat. Ternyata Imah pintar sekali. Pinggulnya dapat berputar cepat seperti gasing, mengimbangi gerakan penetrasiku pada vaginanya. Setengah mati aku mengatur gerakan sembari terus mengendalikan kobaran birahiku. Kadang aku menekan dengan gerakan lembut satu-dua, sesekali kucepatkan dan kukuatkan seakan hendak menjebol dinding vagina Imah.*

Rupanya Imah termasuk type perempuan yang sangat panas dan liar dalam bermain cinta. Itulah justru yang kelak membuatku demikian tergila-gila kepadanya sampai-sampai tidak dapat lagi menghentikan perselingkuhan kami. Setiap kali aku berniat berhenti, bayangan erotisme Imah membuatku justru ingin mengulang-ulangnya kembali.

Tubuhnya tidak pernah berhenti bergoyang, seiring dengan erangan dan desahannya. Setiap kali aku menekan kuat-kuat, dia justru mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga kemaluan kami menyatu serapat-rapatnya. Bila aku menekan dengan gerakan lembut satu-dua, dia mengimbangi dengan menggoyangkan pinggulnya seperti penari jaipong. Nikmatnya tak dapat kulukiskan dengan kata-kata.

Aku merasa dinding pertahananku hampir jebol. Kenikmatan luar biasa yang kurasakan dari perlawanan Imah yang erotis sungguh tidak tertahankan lagi. Padahal baru beberapa menit. Aku segera mengendalikan diri, kutarik nafas panjang-panjang, lalu kutarik tubuhku dari tubuh Imah.

Aku menelentang, dan kuminta Imah menaiki tubuhku. Dia menurut. Dengan gerakan yang sangat cepat, dia segera nangkring di atas tubuhku. Diraihnya batang kemaluanku yang terus mengacung keras seperti tugu batu, dan diarahkannya kembali pada liang vaginanya.

Keringat menetes-netes dari wajahnya yang manis. Kuraih sepasang payudaranya yang bergelantung bebas, kuremas dan kuputar-putar dengan lembut. Imah mendesah sambil menekan pinggulnya agar batang kemaluanku melesak lebih dalam.

“Nggghhh….. sshhhh….aahhhh….,” kembali dia merintih dan mendesah.

“Kenapa, Maah?”

“Ennaakh…, enak, Paak….”

“Kamu pinter.”

“Bapak yang pinter! Imah bisa ketagihan kalau enak begini… Imah pingin ngentot terus sama Bapak…”

“Kita ngentot terus tiap hari, Mah…”

“Bapak mau?”

“Asal Imah mau.”

“Imah mau banget atuh, Pak. Enak banget ngentot sama Bapak….”

“Ayo, genjot, Mah.. Kita main sampai pagi!”

Imah segera bergoyang lagi. Tubuhnya bergerak erotis naik-turun, maju-mundur, kiri-kanan, ditingkahi rintihan dan desahannya yang penuh nafsu. Aku diam saja, hanya sesekali kuangkat pantatku agar kemaluan kami bertaut lebih rapat. Akibatnya aku jadi lebih mampu bertahan. Dalam posisi seperti itu, aku tahu bahwa perempuan biasanya akan lebih cepat mencapai klimaks. Memang itu yang kuharapkan.

Perhitunganku tidak salah. Tidak terlalu lama, goyangan Imah semakin erotis dan menggila. Naik-turun, maju-mundur, dengan kecepatan yang fantastis. Erangan dan rintihannya pun semakin tidak terkendali. Aku jadi semakin bersemangat karena mengetahui dia akan segera mencapai orgasme.

“Paaak…., adduuh…, enak banget… enak banget… enak, Pak…, yah… yah…, Imah enak…”

“Saya juga enak, Maah…, teruuusss….”

“Oooohhh…. enak banget siihhh…., adduuuhhh…., adduuhh……”

“Terus, Maah… enak banget… enak ngentot ya, Maah…?”

“Enakh…, ngentot enak…, Imah seneng ngentot sama Bapak…, kontol Bapak enak…”

“Memek kamu gurih…”

“Ooohhhh…., yah…, yah…, yah…., Imah mau keluar, Paak…, Imah nggak kuatts…”

Tubuh Imah mengejang pada saat dia mencapai orgasme. Kepalanya mendongak jauh ke belakang. Mulutnya mengeluarkan rintihan panjang sekali. Saat itu kurasakan liang vaginanya berdenyut-denyut, menambah kenikmatan yang fantastis pada batang kemaluanku.

Setelah itu dia menelungkup lunglai di atas tubuhku. Nafasnya memburu setelah menempuh perjalanan panjang yang membawa nikmat bersamaku. Kubiarkan sejenak dia menenangkan diri sementara kemaluan kami masih terus bertaut rapat. Sesaat kemudian, baru aku berbisik di telinganya, “Saya belum lho, Mah…?!”

Imah menengadah, mengangkat wajahnya menatapku. Dikecupnya bibirku.

“Kan mau sampai pagi?!” katanya dengan nada menggemaskan.

“Kamu mau istirahat dulu?”

“Nggak… terus aja, Pak.. Imah masih keenakan, kok…”

Sejenak kami berciuman. Dapat kurasakan jantung Imah masih bergemuruh, pertanda birahinya memang masih tinggi. Kuusap-usap pantatnya yang telanjang sementara kami berciuman rapat. Kemudian kugulingkan tubuhku, sehingga Imah kembali berada di bawah.*

Kucabut batang kemaluanku dari vagina Imah. Dia menatapku dengan rupa tidak mengerti. Kuberikan dia senyuman, lalu kuminta dia menelungkup. Imah mengerti sekarang, maka lekas-lekas dia menelungkup sambil cekikikan.

“Nungging, Mah…” kataku memberi komando.

Imah mengangkat pinggulnya hingga menungging seperti permintaanku. Aku dapat melihat mulut vaginanya yang merekah dari belakang. Kudekatkan mukaku, kucium mulut vaginanya, dan kupermainkan klitorisnya sejenak dengan ujung lidah. Imah merintih lirih, pantatnya mengangkat lebih tinggi sehingga mulut vaginanya merekah lebih lebar di depan mukaku. Kumasukkan lidahku lebih dalam, kemudian kusedot mulut vaginanya sampai berbunyi.

Bapak emang pinter banget…” desis Imah sembari menggelinjang menahan nikmat.

“Kita tancap lagi ya, Maah…?!”

“Sampai pagi……..?!”

Aku berlutut di belakang tubuh Imah yang menungging. Pantatnya mencuat tinggi ke belakang guna memudahkanku menusuk kemaluannya. Kedua tangannya mencengkeram sprei yang kusut. Kepalanya terkulai. Kudengar dia mendesah lirih ketika batang kemaluanku perlahan menerobos masuk lewat belakang.

Kedua tanganku mencengkeram pantat Imah. Sejenak aku berhenti. Imah menoleh ke belakang karena tidak sabar. Kutekan lagi perlahan-lahan, sehingga dia kembali mengerang dengan kepala terkulai ke depan. Aku berhenti lagi. Kuusap-usap pantatnya, kucengkeram agak kuat, lalu kurekahkan dengan kedua tangan. Imah menoleh lagi ke belakang.

Tepat pada saat itu aku menekan kuat-kuat. Deg! Tubuh Imah sampai terdorong ke depan. Dia langsung membalas memundurkan pantatnya, diputar-putar, berusaha keras agar batang penisku masuk lebih dalam. Agak susah karena ukurannya super king.

Kembali dia menoleh ke belakang. Kutekan lagi kuat-kuat! Kini Imah sudah siap. Bersamaan dengan gerakanku, dia menyambut dengan mendorong pantatnya kuat-kuat ke belakang. Slep! Batang kemaluanku menyeruak masuk. Kutahan sejenak, lalu kudorong lagi sekuat-kuatnya. Imah kembali menyambut dengan gerakan seperti tadi. Kali ini dia mengerang lebih keras karena batang penisku masuk hingga menyentuh dinding rahimnya.

“Sakit, Mah?” tanyaku.

“Nggak… malah enak…, terusin, Paak…Imah belum pernah main kayak gini…”

Sambil menikmati bertautnya kemaluan kami, kupeluk erat tubuh Imah dari belakang. Kuciumi tengkuknya. Imah berusaha menoleh-noleh ke belakang, berharap aku menciumi bibirnya. Sesekali kuturuti permintaannya sambil meremas-remas kedua buah dadanya yang memuai semakin montok.

Kugerak-gerakkan pinggulku dengan irama lembut dan teratur, kunikmati bertautnya kemaluan kami dalam posisi “anjing kawin” itu sembari menciumi tengkuk dan leher Imah. Gadis itu menggeliat-geliatkan tubuhnya, pinggulnya bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan.*

Beberapa menit kemudian, nafas Imah mulai memburu kembali. Itu pertanda birahinya mulai meninggi, mendaki puncak kenikmatannya kembali. Maka aku mulai mengambil posisi. Kedua tanganku berpegangan pada pinggang Imah, sementara dia pun mengatur posisi pinggulnya supaya lebih memudahkan aku. Setelah itu dia menoleh ke belakang memandangiku. Tatapannya amat sayu, dan aku tahu, itulah tatapan perempuan yang sedang tinggi birahinya.

Aku mulai bergerak maju mundur. Satu dua, dengan irama teratur. Nafas Imah semakin kencang terdengar, seiring dengan semakin kuatnya hunjaman batang kemaluanku pada liang vaginanya. Aku memompa terus. Semakin lama semakin cepat dan kuat. Imah semakin terengah-engah. Tubuhnya berguncang-guncang, sesekali sampai terdorong jauh ke depan, tapi tidak sampai terlepas karena kutahan pinggangnya dengan kedua tangan.

Tubuh kami yang telanjang bulat dibanjiri peluh. Lebih-lebih Imah, keringatnya menciprat ke mana-mana karena tubuhnya berguncang-guncang. Itulah bagian dari erotisme Imah yang sangat aku suka. Belum pernah aku merasakan sensasi bersetubuh yang senikmat ini. Kurasakan ejakulasiku telah dekat, tapi kutahan sebisaku karena aku belum ingin segera menyudahi kenikmatan yang tiada tara ini. Kugigit bibirku kuat-kuat, sementara hunjaman penisku terus menguat dengan irama yang super cepat.

Imah semakin erotis. Nafasnya liar seperti banteng marah, erangannya bercampur dengan rintihan-rintihan jorok tiada henti.

“Ooohh…, aaahhh…, ohhh…, aahhhh…, teruuss, Paak…, teruuusssss…, Imah enak…, enak banget…, adduuuh, Maak…, Imah lagi keenakan nih, Maak…, oohhh… aaahhh…, terus, Paak… yah… yahhh… adduuuuh….. sssshhh…. Maaak….., Imah lagi ngentot nih, Maak…, enaknyahhh…, adduuuhhh…., ooohh…, yaahhh… yaahhhhhhh…, terruuuusssss…”

Suara Imah keras sekali, tapi aku tidak peduli. Justru mendatangkan sensasi yang menambah nikmat. Toh tidak ada siapa-siapa di rumah ini, kecuali anakku yang sedang tidur lelap. Maka terus kucepatkan dan kukuatkan sodokan-sodokanku. Imah semakin tidak terkendali. Orgasmenya pasti sudah dekat, seperti aku juga.

Ketika kurasakan ejakulasiku telah semakin dekat, kucabut tiba-tiba penisku dari dalam liang surgawi Imah. Dengan gerak cepat, kubalikkan posisinya hingga menelentang, lalu secepat kilat pula kutindih tubuhnya dan kumasukkan kembali batang penisku. Imah menyambut dengan mengangkat pinggul agak tinggi, kedua pahanya mengangkang selebar-lebarnya memberi jalan.

Vaginanya telah teramat sangat basah oleh lendir sehingga memudahkan batang penisku segera masuk. Tapi tetap saja aku harus menekan agak kuat karena mulut vaginanya kecil seperti perawan, sementara batang kemaluanku besar dan keras seperti pentungan kayu.

Kurasakan spermaku telah menggumpal di ujung batang kemaluanku, siap untuk dimuntahkan. Kulihat Imah pun sudah hampir mencapai klimaks. Maka, langsung saja kutancap lagi, cepat, kuat, dan kasar. Imah menjerit-jerit mengiringi pencapaian puncak kenikmatannya.

“Ssshhh….. aaahhh…, oooooohhh…, kontol Bapak enak banget siiihhh…, adduuhhh…., terruuusss…., yaaaaahhh…”

“Enak, Maah?”

“Enak bangeet…., Imah mau ngentot terus kalau enak begini..…. Kontol Bapak lezat…, addduhhhh…, tuuhh… yahh…, tuuhh… adduhhh…, enak banget siiihhh….”

“Puter terus, Maah… yah… yah…”

“Ohhh… enak banget, Paak…, enak bangeettt…., Imah doyan kontol Bapak…, enak ngentot dengan Bapak…, Imah pingin ngentot terussss…, addduuuhhhh…., enaknyaahhhh….”

“Saya hampir keluar, Mah…”

“Imah juga, Pak…, bareng…, bareng…., yahh…, teruusss… sodok…, yahhhh… terrrussss… yahhh… terusss… sedaaap… asyiiik…, yah… gituuhhh… yahhh…. yahhh… oooooohhh…”

Imah mengejang lagi, dia mencapai orgasmenya yang kedua. Pinggulnya terangkat setinggi-tingginya, sementara kedua tangannya memeluk tubuhku luar biasa erat. Pada detik bersamaan, aku pun mencapai puncak kenikmatanku. Air maniku menyembur-nyembur banyak sekali di dalam rongga vagina Imah. Bibir kemaluannya serasa berkedut-kedut menghisap batang kemaluanku hingga spermaku muncrat berkali-kali dan keluar sampai tetes terakhir. Luar biasa, sungguh belum pernah kurasakan nikmatnya bersetubuh seperti ini.
Imah mengangkat wajah menunggu aku menyelesaikan kalimat.*

“Tapi apa, Pak?” Dia penasaran. Aku tersenyum, lalu perlahan kuturunkan celana pendek beserta celana dalamku sekaligus. Batang kemaluanku langsung berdiri tegak tanpa penghalang.

“Adik saya ini nggak mau disuruh ngelupain kamu…!” kataku. Kontan muka Imah memerah, kemudian dia tersenyum malu-malu. Tanpa kusuruh, dia bangkit lalu berlutut di hadapanku. Cepat dia melucuti celana pendek beserta celana dalamku. Kemudian batang penisku digenggamnya dengan dua tangan. Seperti orang melepas kangen, sekujur tongkat wasiatku itu diciuminya bertubi-tubi., sementara kedua tangannya mengurut-urut dengan lembut. Aku membalas dengan mengusap-usap rambutnya.

Sejenak Imah mengangkat wajah memandangku. Matanya mulai sayu, pertanda dia telah terserang birahi. Kemudian lidahnya menjulur panjang. Topi bajaku dijilatnya dengan satu sapuan lidah. Aku menggelinjang. Otomatis batang penisku mengedut, dan gerakan itu rupanya menambah gemas Imah. Lidahnya jadi semakin lincah menjilat-jilat. Buah zakarku pun kebagian. Aku semakin tidak kuat menahan nikmatnya. Kedua pahaku mengangkang lebih lebar, pinggulku mengangkat sedikit, dan itu dimanfaatkan Imah untuk terus menjilat-jilat sampai ke belahan pantatku. Gila, ternyata rasanya luar biasa nikmat! Belum pernah aku merasakan lubang pantatku dijilat seperti ini.

“Enak banget, Mah… Kamu pinter banget,” aku mengaku terus terang. Kembali Imah mengangkat wajah memandangku. Matanya semakin sayu. Sejenak dia mencoba tersenyum, ada rasa bangga di wajahnya bisa membuatku keenakan seperti itu. Lalu mulutnya menganga lebar, batang kemaluanku dikulumnya dengan lembut, masuk perlahan-lahan sampai tiga perempatnya.

“Gede banget, siiih…??!” dia mendesis sambil menarik mulutnya dari batang penisku. “Imah kepingin masukin semua, nggak bisa! Nggak muat!”

Aku tersenyum saja. Kutekan sedikit kepalanya, dia mengerti, kembali batang penisku dimasukkannya ke dalam mulut. Kali ini dijejal-jejalkannya terus, tapi tetap tidak berhasil karena ukurannya yang super besar memang tidak memungkinkan. Matanya memandangku lagi sementara mulutnya terus mengulum sembari mengocok-ngocok batang penisku dengan tangan. Aku memberinya senyuman membuat dia senang.

“Pak, Imah juga pingin ngomong jujur,” tiba-tiba Imah berkata. Kedua tangannya kembali mengurut-urut batang penisku dengan mesra, sementara matanya sayu menatapku.*

“Ngomong apa?”

“Imah sempet malu karena tadi malem Imah kayak orang kesurupan. Imah emang gitu kalo’ bener-bener keenakan, Pak.”

“Tapi kamu nggak nyesel, kan?”

“Ya nggak. Imah cuma malu sama Bapak…”

“Emangnya enak ya, Mah?”

Imah tidak menjawab. Dia berdiri sembari menurunkan sendiri dasternya. Batang penisku kembali mengedut kuat, menyaksikan tubuh Imah menjadi telanjang, tinggal bercelana dalam. Sedari tadi dia memang tidak mengenakan BH. Kuraih tubuhnya agar lebih mendekat dengan melingkarkan kedua tanganku pada pantatnya yang bulat.*

Imah menggeliat kecil sementara pantatnya kuusap-usap. “Buka, ya?” kataku seraya menurunkan celana dalamnya, tanpa menunggu persetujuan. Seketika kemaluannya terpampang telanjang di depan mukaku. Aku menengadah menatap matanya, dan dia tersipu. Mungkin malu, tangannya bergerak hendak menutupi selangkangannya, tapi kucegah. “Memek kamu bagus,” kataku sambil membelai bulu-bulu hitam kemaluannya. Otomatis pinggulnya meliuk, mungkin dia kegelian. Aku malah tambah senang, gantian lidahku yang mengusap pangkal pahanya. Tentu saja dia semakin kegelian.*

Beberapa saat lidahku menari-nari di seputar perut dan pangkal pahanya. Imah menikmati perlakuanku dengan meliuk-liukkan pinggulnya. Kadang berputar perlahan, sesekali didorongnya maju mendesak mukaku. Aku jadi gemas, maka jemariku mulai beraksi. Imah mengangkang sambil menekuk lututnya sedikit ketika dirasakannya jari tengahku menyusup ke belahan vaginanya yang mulai basah.

Dari satu jari, dua jariku masuk, disusul jari ketiga. Imah mulai merintih. Pinggulnya bergerak menjauh, tetapi ketika tusukan jemariku mengendur, dia justru memajukan lagi pinggulnya. Aku jadi semakin “hot” menggosok-gosok mulut vaginanya dengan jari. Erangan dan desahan Imah mulai menjadi-jadi. Lututnya gemetar, mungkin tidak kuat menahan gelora birahi.

“Imah lemess…” desisnya.

Tiba-tiba dia duduk mengangkang di pangkuanku. Tanpa ada rasa sungkan dan malu-malu lagi, leherku dipeluknya erat-erat sembari menyodorkan buah dadanya ke mukaku. Aku jadi gelagapan. Buah dadanya yang montok menutupi hampir seluruh wajahku. Imah mengikik. Dengan gemas, kugigit puting susunya sedikit, sehingga dia mengendurkan pelukannya. Baru aku lebih leluasa. Kuciumi buah dadanya yang sebelah kiri, kujilat dan kukenyot-kenyot putingnya, sementara yang kanan kuremas-remas dengan tangan. Kurasakan payudaranya mulai memuai semakin montok, dan putingnya mulai mengeras.

Sesekali aku juga menciumi sekitar ketiak Imah yang berkeringat. Aku suka bau badannya, harum seperti bayi. Keringatnya kuhisap dan kujilat-jilat. Imah menggelinjang semakin “hot”.

Beberapa saat kemudian, Imah menggerak-gerakkan pinggul dan meraih batang penisku. Sambil terus menikmati cumbuanku pada buah dadanya, dia berusaha menjejal-jejalkan batang penisku pada mulut vaginanya. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Dia mulai kesal, desahannya semakin kuat dengan erangan-erangan tertahan. Batang penisku terus digosok-gosokkannya di belahan vaginanya yang basah, tetapi dia belum berhasil memaksanya masuk.

Kami lalu bertukar posisi. Aku bangkit, Imah duduk. Lalu kurebahkan tubuhnya. Dia melonjorkan sebelah kakinya di lantai, sementara yang sebelah lagi disangkutkannya di sandaran sofa. Posisinya itu membuat kemaluannya merekah, mempertontonkan belahannya yang merah basah. Kelentitnya menyembul. Aku tidak membuang waktu, langsung kucumbu kemaluannya dengan mulut dan lidah. Dia mengerang, “Uddaah, Paak….”

Aku tidak peduli karena aku memang masih ingin bermain-main. Imah sendiri mulai tidak terkendali. Tubuhnya mulai menggeliat-geliat dengan irama liar tak beraturan. Nafasnya memburu, mulutnya mengeluarkan desah dan erangan tak henti-henti. “Uddahh, Paak…, uddaaaahhh…, Imah nggak kuaattt……”

Mengetahui dia mulai dikuasai birahi, aku justru tambah senang. Pantatnya kuangkat. Imah mengangkang lebih lebar, sehingga kemaluannya semakin merekah. Mulut vaginanya menganga. Kusodokkan lidahku lebih dalam, kugoyang-goyang ujungnya dengan cepat, lalu kukenyot klitorisnya. Dia menjerit. Kembali kugosok-gosok seluruh dinding vaginanya dengan lidah, sementara kelentitnya kutekan dan kuusap-usap dengan ibu jari. Lendirnya jadi semakin banyak, pertanda birahinya semakin tinggi.

Tiba-tiba Imah mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sambil menekan kepalaku kuat-kuat pada selangkangannya. Tubuhnya mengejang. Kutekan mulutku pada vaginanya, lidahku menjulur lebih dalam, lalu kukenyot dengan suatu hisapan panjang. Terdengar erangan Imah. Tubuhnya menggelepar-gelepar menyongsong detik-detik pencapaian orgasmenya, kutambah nikmatnya dengan terus mengenyot mulut vaginanya yang asin berlendir.

Setelah itu tubuh Imah agak sedikit lunglai. Nafasnya memburu. Kutindihi tubuh bugilnya. Kuciumi mukanya yang berkeringat. Dia tersenyum.

“Keenakan, ya?” godaku. Dia mengangguk. Tangannya meraih batang penisku. “Masukin yuk, Pak…”

Imah tidak berkata-kata lagi karena mulutnya kusumbat dengan suatu ciuman bibir yang panas dan panjang. Lidah kami saling membelit, menghisap, dan menjilat-jilat. Sementara itu kedua buah dadanya habis kuremas-remas. Kurasakan sepasang payudara indah itu telah amat keras dan padat. Lalu kembali kuraba selangkangannya. Vaginanya merekah menyambut usapan jariku, dan kelentitnya menyembul. Basah.

Sengaja aku mencium bibir Imah agak lama, aku ingin birahinya cepat meninggi. Rasanya aku berhasil. Dia semakin tidak sabar ingin menuntun batang kemaluanku memasuki liang surgawi miliknya. Aku pura-pura tidak tahu. Tubuhku menindihinya agak menyamping, sehingga batang kemaluanku menekan pahanya. Sambil terus berciuman bibir, justru jemariku yang kembali aktif menggerayangi vagina Imah.*

Imah yang lebih dulu melepas ciuman. Nafasnya terengah-engah. Birahinya pasti telah cukup tinggi. Kembali terang-terangan dia memintaku segera memasukkan batang kemaluanku. Dia tentu tidak tahu bahwa aku tengah berniat mempermainkannya sedari tadi. Akan kubuat dia merengek-rengek sekaligus akan kuberikan dia kenikmatan yang takkan terlupakan.

Kebetulan sekali telepon berdering.

“Angkat dulu,” kataku. “Kalo’ dari Ibu, bilang saya ke rumah Nenek.”

Imah mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum mengangkat telepon. Ternyata betul, itu dari istriku. Aneh, kejadian itu malah mendatangkan sensasi yang justru membuat birahiku semakin tinggi. Nikmat rasanya bercumbu dengan babu, sementara dia tengah menelepon dengan istri sendiri.*

Maka, kusuruh Imah menelentang di sofa sambil terus menelepon. Kebetulan meja telepon terletak persis di sebelah sofa. Kedua kakinya kukangkangkan lebar-lebar. Kukecup-kecup klitorisnya, membuat Imah tergagap-gagap menjawab telepon.

“Oh, eh, nggak tau, Bu,” katanya. Rupanya istriku sudah terlebih dahulu menelepon ke rumah ibunya, sehingga dia tahu bahwa aku tidak ada di sana. Tapi tentu saja dia tidak curiga. Dia hanya bertanya mengapa suara Imah terdengar seperti terengah-engah.

“Anu… saya tadi lagi di depan, Bu…, jadi lari-larian…” Imah menjawab sekenanya, sementara pinggulnya mengangkat-angkat saking keenakan vaginanya kukenyot-kenyot.

Celaka bagi Imah, istriku mengajaknya ngobrol agak lama. Rupanya dia memesankan banyak hal, terutama yang menyangkut urusan menjaga Gavin. Aku terus menggodanya dengan cumbuan yang justru semakin menggila. Batang kemaluanku bahkan kujejal-jejalkan ke mulutnya, sehingga dia menelepon sambil mengulum. Untungnya dia lebih banyak mendengar daripada bicara. Itu pun kadang-kadang dia agak gelagapan.

“Kamu denger nggak sih?” rupanya suatu ketika istriku bertanya karena merasa tidak mendapat respon.

“Mmm..mmm….” Imah kerepotan melepas batang penisku dari kulumannya. “Ya, Bu…, saya ngerti…” Istriku bicara panjang lebar lagi, maka kembali kusuruh Imah mengulum.

“Mmm… mm..mm…” dia merespon omongan istriku sambil terus mengulum, sementara sebelah tangannya tidak lupa mengocok-ngocok batang penisku. Lama-lama istriku curiga. Tapi tentunya dia tidak berpikir sejauh itu, dia hanya mengira Imah menelepon sambil makan permen. Imah mengiyakan.

“Iya, Bu… permen lolipop…,” katanya sambil menjilat topi bajaku yang merah mengkilat. Istriku marah. “Maaf, Bu…” kata Imah lagi. “Abis, permennya enak bangetth…”

Imah semakin berani. Dia kemudian malah berdiri, batang penisku digenggamnya kuat-kuat, lalu dijejalkannya ke mulut vaginanya. Kuturuti kemauannya. Sambil berdiri, kutahan pantat bulatnya, kuarahkan batang penisku pada liang vaginanya, lalu kutekan perlahan-lahan. Vaginanya telah amat basah oleh lendir pelumas, sehingga batang penisku dapat dengan mudah menyelusup. Imah menahan nafas.

“Buu… uddahh, ya? Saya mau… bbhuang airrr….” Berkata begitu, Imah langsung menutup telepon, lalu bermaksud melayani persanggamaan yang baru kumulai.

Dia langsung melingkarkan kedua tangannya di belakang leherku, memelukku erat-erat, lalu mencium bibirku lumat-lumat. Aku balas melumat bibirnya dengan tidak kalah panas. Sementara itu, kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat. Imah menggoyang-goyangkan pinggulnya, berusaha agar batang kemaluanku masuk lebih jauh ke dalam vaginanya. Aku sendiri tidak bergerak, kubiarkan Imah berusaha sendiri.*

Beberapa saat kemudian, Imah melepas ciuman. Nafasnya menghambur, panas memburu seperti lokomotif. Pinggulnya terus menggeliat-geliat, berputar dengan irama lambat. Dia jelas mulai tidak tahan. Dipeluknya tubuhku lebih ketat, lalu dia berbisik persis di telingaku,

“Ayuk, Paak…”

“Ayuk apa?” godaku. Imah tidak menjawab, melainkan mendorong pinggulnya sembari menahan pantatku dengan tangan. Rupanya dia masih dapat mengontrol diri, sedapat mungkin dia tidak ingin kelihatan liar seperti peristiwa pertama tadi malam. Aku tambah bersemangat ingin menggodanya. Pokoknya dia harus merengek-rengek kepadaku!

Sambil mengangkat pantatnya, kuperintahkan Imah menaikkan kedua kakinya lalu melingkarkannya di belakang pantatku. Kedua tangannya melingkar erat di leherku. Sementara itu, kemaluan kami tetap bertaut. Imah mengikik, posisinya persis anak monyet sedang digendong induknya. Aku tahu betul, posisi itu akan mendatangkan kenikmatan yang luar biasa baginya.

Benar saja, sebentar kemudian dia mulai mendesah-desah keenakan. Lebih-lebih setelah aku membawanya berjalan. Setiap aku melangkah, dia menahan nafas, lalu menghamburkannya dengan sedikit erangan tertahan. Semakin cepat aku melangkah, desah dan erangannya semakin kuat.

“Uddah, Paak…, uddaahhh….” desisnya setelah beberapa saat. Seperti yang sudah-sudah, itu berarti dia minta aku menyelesaikan permainan karena orgasmenya sudah dekat. Aku berhenti melangkah. Kusandarkan tubuh Imah ke meja makan. Dia mengangkat pantatnya sedikit. Sebelah kakinya setengah menjinjit ke lantai, sebelah lagi terangkat tinggi ke samping. Vaginanya jadi merekah, siap menerima hunjaman batang penisku. Tapi aku hanya menekan perlahan dengan gerakan satu-dua. Imah jadi penasaran.

“Ayuk, Paak…” pintanya lagi seperti tadi.

“Ayuk apa?” godaku lagi. Imah kembali tidak menjawab. Digeliatkannya tubuhnya sambil membuang wajahnya jauh ke belakang. Aku memutar pinggulku, lalu menekan lagi satu-dua. Pelan sekali.

“Yang kenceng dong, Paak…” desah Imah akhirnya.

“Begini?” aku mempercepat gerakanku dua-tiga kali.

“Yah, yah, terrusss…”

“Enak, Mah?”

“Enak bangetts…”

“Kamu doyan?”

“Doyan bangettt…, adduuuhhhh…, yahh…, yaahhh….”

Kulambatkan lagi gerakanku.

“Emangnya begini nggak enak?” godaku.

“Enaak…, tapi Imah mau yang kenceng…!!”

“Gini?” kucepatkan lagi gerakanku.

“Iyyahhh…, terruuusss…”

“Enak, Maah?”

“Enak…”

“Bilang dong! Bilang enak, bilang kamu doyan…”

“Enak…, Imah doyan…”

“Doyan apaan?”

“Aaang…, Bapak?!” Imah tersipu-sipu

“Ya udah, kalo’ nggak mau bilang…” Aku berpura-pura bergerak hendak mencabut penisku. Imah buru-buru menahan pantatku. “Iya, iya, Imah bilang! Imah doyan….” mata Imah semakin sayu dan suaranya berbisik lirih namun sangat jelas, “…doyan….. ngenthooot!”

Kucepatkan gerakanku sebagai “upah” karena dia sudah mau bicara terus terang. Matanya terpejam sedikit. Aku melambat lagi. Imah membuka mata kembali, tatapannya bertambah sayu. Kujulurkan lidahku, dia menyambut dengan juluran lidah pula. Ujung lidah kami beradu, bermain-main beberapa saat, lalu kembali kami berciuman. Lumat, tandas, sementara pinggulku bergerak maju-mundur mulai semakin cepat.

Ketika ciuman kulepaskan, Imah merebahkan badannya, telentang di atas meja. Dia nampak amat tidak berdaya diamuk birahi. Orgasmenya pasti sudah dekat. Aku hampir tidak tega, tapi aku ingin mendengar omongan-omongan joroknya seperti semalam. Aku suka erotisnya.

Maka gerakanku kuatur sedemikian rupa agar rasanya menggantung. Lambat tidak, cepat pun tidak. Sesekali bahkan kudiamkan batang penisku terbenam sebagian di liang vaginanya, lalu kuputar-putar pinggulku. Imah mengerang-erang, mendesah, menggeliat, dan mulai lupa diri.

“Bapaak…, ayuk, doong…..” desah gadis itu akhirnya. Suaranya bergetar menahan birahi.

“Ayuk apa?”

“Ngenthooothh…., Imah mau ngentot sama Bapak…, Imah doyan kontol Bapaak… Kontol Bapak enak, gemuk, panjang, memek Imah rasanya penuh bangettt…”

“Ini kan kita lagi ngentot?”

“Iya, tapi yang kenceng atuuuh! Imah nggak kuat, Paak…, Imah hampir keluar!”

“Begini?” kucepatkan lagi gerakanku.

“Yah, yah, terruuuss…, yaaaahhh….”

Terus kucepatkan hunjamanku. Lebih cepat, semakin cepat, cepat sekali. Imah sampai menjerit-jerit. Tubuhnya menggelepar-gelepar di atas meja. Keringatnya menciprat ke mana-mana. Birahinya tinggal selangkah lagi mencapai puncak.*

“Ennaknya, Paak…., enak bangeeettt…, teruuuuussss…., yah, yaaaahhh, yaaaaahhh….”

“Saya hampir keluar, Maah…”

“Imah juga, Imah juga…. Bareng, Pak, bareng…, haahhh…, haaahhhh….”

“Uuuuhhhhh……, enaknya ngentot sama kamu, Maah…., uuuuhhhhhhh….!!!”

“Oooohhhhh…., terus, Paak…, yang kenceng! Yang kenceng! Yaaaahhhhh…., terruuuss…”

“Memek kamu sedap banget, Maah….”

“Kontol Bapak mantep…., enaakkk…, yaahhh…, terrruuuss…, Imah hampir keluaaar…”

Aku memompa tanpa henti, sampai tiba-tiba tubuh telanjang Imah mengejang. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi, seakan hunjaman batang penisku masih kurang dalam dan kuat. Dia telah mencapai orgasmenya yang kedua. Saat itu gerakan pinggulku luar biasa cepat dan kuat, sehingga Imah menggapai puncak birahinya dengan menjerit panjang. Aku sendiri mencapai klimaks beberapa detik setelah itu. Air maniku menyembur-nyembur seakan tak mau berhenti. Crot! Crot! Crot! Banyak sekali. Nikmatnya tak terkatakan.*

Imah tersenyum memandangiku dengan nafas masih agak tersengal. Wajah manisnya kembali nampak lugu. Aku jadi gemas, kutindihi tubuh montok Imah yang bersimbah peluh. Kuciumi mukanya. Dia menikmati kecupan-kecupanku dengan memejamkan mata.

“Enak, Maah?” tanyaku berbisik tepat di telinganya.

“Enak banget, Pak… Imah sampe’ lemes!”

Kembali kuciumi sekujur muka Imah. Kening, mata, hidung, pipi, juga telinga. Keringatnya kujilat-jilat. Terakhir kami berciuman bibir lagi, sementara batang penisku kubiarkan menancap pada vaginanya yang banjir oleh lendir. Nikmatnya masih terasa.

“Saya seneng ngentot sama kamu, Mah,” bisikku jujur setelah itu. “Soalnya enak banget!”

“Apalagi Imah. Nggak mimpi deh bisa ngerasain enak sama laki-laki hebat kayak Bapak!”

“Hebat apanya?”

“Semuanya! Orang kaya, baik, cakep, gagah…, mainnya pinter!”

“Kita bisa begini tiap hari kalo’ kamu mau.”

“Kalo’ ada Ibu?”

Aku tidak bisa menjawab. Kuputus pembicaraan dengan berciuman lagi beberapa saat. Akibatnya, kembali nampak tanda-tanda bahwa permainan masih akan berlanjut. Imah membelai-belai wajahku sementara matanya memandangiku. Lalu dia bergumam lirih,

“Imah takut nggak bisa beginian kalo’ ada Ibu…”

“Jangan dipikirin, Mah,” bisikku. “Yang penting, kamu harus tau bahwa saya ketagihan main sama kamu. Saya kepingin kita beginian terus. Pagi, siang, sore, malem.”

“Imah juga.”

“Sekarang kita masih punya waktu lima jam sebelum saya jemput si Gavin. Kamu masih kepingin, kan?”

Imah tersenyum sambil mengerjapkan mata, maka permainan pun berlanjut beberapa ronde lagi. Di dalam kamar tidurku, di kamar mandi, juga di dapur. Sungguh, nikmatnya seperti tak pernah habis.

Ibu Dosen Cantik

Sayaberasal dari daerah Timur Indonesia, lahir 30 tahun yang lalu . dan sekarang bekerja di perusahaan swasta di Semarang. Saya sering di panggil temen – temen item . maybe coz kulit saya agak burem ato hitem .. hehheheh. saya paling suka ngebayangin bercinta degan wanita yg cantik,dan saya paling suka wanita berjilbab. Sudah menjadi obsesi saya adalah make love dengan wanita berjilbab yang berumur antara 25-40 tahun. Suatu hari di bis kota saya berkenalan dengan seorang dosen cantik,berjilbab,mengajar di Universitas swasta di Semarang.Namanya Ibu Umi Faizah. Ngobrol kesanakemari…akhirnya dia memberikan no. HP dan dari beberap kali obrolan selajutnya kami sepakat makan siang bersama. Dari pembicaraan kami selama ini saya berasumsi gadis ini cukup hangat dan enak diajak ngobrol. Siang itu setelah janjian . kami sepakat untuk bertemu di salah satu mall di daerah Thamrin. Terus terang saya agak nervous .. karena ini untuk pertama kali saya kencan dengan seorang wanita alim, dosen lagi.Wanita inilah yang selama ini menjadi kriteria saya .. umur antara 25 sampai 35 tahun . I don’t care how she look like .. the most important is . dia umuran segitu dan feeling saya mengatakan dia cukup pinter dan enak diajak ngobrol. 10 menit menunggu akhirnya mobile phone saya berdering … tatapan saya tertuju ke pintu mall. di sana berdiri seorang gadis cantik,berjilbab putih berkacamata berusia sekitar 25 -an .. mengenakan kerudung dengan bros cantik di leher, tinggi sekitar 165 – an dengan berat antara 45- an. Kulit kuning langsat,bibirnya dibalut lisptik sepadan dengan dandanannya … penampilannya sungguh seorang wanita yang matang karena pengalaman. Saya berdiri menuju pintu .. dan menyalaminya . Mbak Umi!? Iya . kamu Item ? Iya Mbak .. kami kemudian berjalan menuju ke meja yang sudah saya reserve sebelumnya … sablengnya saya .. semua biaya date ini adalah tanggungan dia . maklum orang kere gue .. heheheh. Cukup banyak obrolan yang kami bicarakan siang itu … sampai akhirnya saya tahu bahwa dia berusia 27 tahun … wow …. sedikit bersorak saya dalam bathin … bisakah saya bisa meniduri perempuan cantik berjilbab ini? Date siang ini berjalan mulus … dan kemungkinan untuk ngeseks dengan dia kelihatan semakin besar saat saya mengantar dia menuju ke mobilnya. Sebelum menginjak pedal gas … dia sempat memberikan sebuah ciuman manis di bibir saya … bathin saya bersorak … wow .. ini kesempatan bagus. Beberapa hari kami saling mengirimkan sms … sampai pada suatu siang Mbak Umi menelpon saya dan meminta saya untuk datang ke sebuah hotel di daerah slipi. Ada sedikit kecemasan yang berkecamuk di hati saya … apa yang akan terjadi … is it happy ending or bad story will be happen ? Di depan kamar hotel saya berdiri sejenak meredam kecamuk yang bergejolak …. saat saya bunyikan bel pintu …. dan kepala Mbak Umi menjulur keluar saat membukakan pintu .. wooooooooooooooow … sebuah pemandangan yang tidak pernah saya perkirakan sebelumnya .. menjumpai sosok seorang gadis mahasiswi mengenakan jilbab/kerudung,mengenakan hem lengan panjang warna biru,tapi bagian bawah polos telanjang tanpa penutup apapun… amat sexy …. wonderful ….. she is so pretty. Sedikit kaget dan terpesona … sambil menutup pintu … Mbak Umi berjalan menuju sofa sambil tangannya memegang segelas red wine .. duduk berselonjor sambil meneguk wine … dia menoleh ke arah saya sambil mempersilakan saya duduk .. “santai aja Item … gak usah melotot gitu kenapa? candanya” Sambil tertawa kecil .. saya duduk disamping dia …. tangan saya langsung melingkar punggungnya … saat dia menuangkan segelas wine buat saya … dengan badan agak condong ke depan …. kedua payudaranya yang montok dan kencang…. terlihat dengan sangat jelas …. Sambil berguman …. “Maaf Mbak … saya pengen banget cium bibir kamu!” kata saya. Saat berpaling menatap wajah saya …. tiba – tiba bibirnya mendarat di mulut saya .. belum sempat hilang rasa kaget saya …. Mbak Umi sudah mulai memainkan lidahnya di sela – sela mulut saya sambil mendesah dan mengerang … hmhmhmhmhm acchhhhhhhhhh. Saya tidak menyia – nyiakan kesempatan itu dan mulai berusaha mengimbangin keganasan bibirnya …… Sambil berlutut didepan sofa … tangan saya merangkul pinggulnya .. lidah saya berusaha memainkan sensasi di daerah belakang telingan – nya yang masih tertutup jilbab …. sambil mengerang … “hmhmhmhmhm acchhhhhhhhhh enaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak .. terussssssssssssssssin Item” saya berusaha membangkitkan birahi dia agar lebih panas ….. Gesekan kedua payudara Mbak Umi di dada saya .. turut merangsang permainkan kami menuju area yang lebih panas … mulut Mbak Umi tidak berhenti berdesis … ssssssssssssssssssssssttttttttttt hmhmhmhmhm acchhhhhhhh hhenaaaaaaaakkkkkkkkkkk ,tanganku berusaha membuka jilbab dan kerudung kepalanya…hingga lehernya yg putih bersih terlihat jelas,kuciumi lehernya..saat lidah ku mulai menjilati daerah sekitar leher sambil pelan – pelan turun ke daerah dadanya ….. tanpa membuka baju panjangnya… saya masih bergerilya di sekitar dadanya ….. saat saya mengeluarkan kedua payudara yang agak menggantung tersebut … wow …. sangat menawan … fantastis .. saya tidak menyia – nyiakan kesempatan tersebut …. mulut saya mengulum nipple kanan sambil tangan kiri saya memainkan payudara kirinya … bibir Mbak Umi,mahasiswi berjilbab ini tidak berhenti bersuara dan berdesis … sambil berteriak …. ochhhhhhhhhhh ahhhhhhhhhhhhhh hmhmhm enaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkk Item .. terusin … gigiiiiiiiiiiiiiiiiiiit dikit sayang ………….. gigiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit yang keras sayang ………. saya melakukan semua yang dimintanya ….. merasa posisi tersebut kurang nyaman … saya membimbing tangan Mbak Umi menuju tempat tidur dan membaringkan dia …….. sebelumnya saya mencopoti baju panjangnya tersebut … wooow .. benar tenyata dia tidak mengenakan celana dalam …. mata saya tidak lepas memandang dan mengagumi bentuk badan mahasiswi cantik berjilbabb yang kini telah telanjang ini. Dengan hanya mengenakan celana dalam … saya mulai melanjutkan aktivitas saya …. dengan kembali menjilat dan mengulum payudara kirinya ….. sementara jari tangan saya yang lain …. pelan pelan meraya menuju ke selangkangan Mbak Umi. Jari – jari tangan saya telah leluasa membelai dan dan memainkan klitorisnya …… jilatan saya makin ganas menuju ke daerah puser … sementara teriakan kenikmatan tidak henti – hentinya keluar dari mulut Mbak Umi ….. Iteeeeeeeeeeeeeeeem ….. pleasssssssssssssssse … give me all .. make me weeeeeeeeeeeeeet sayang ….. plssssssssssssssssss ……. erangan dari bibirnya tidak berhenti …… malah semakin lepas saat dua jari saya sudah berada di dalam lobang pussynya … Iteeeeeeeeeeeeeeeem … mainin itil saaaya sayang … elus yang lembuuuuuuuuut sayang …….. suasana saat itu sudah tidak terkontrol ….. itemmmmmmmmmmm fuck me hard … lick meeeeeeeeeeeee … make me weeeeeeeeet saya .. bikin saya basaaaaaaaaaah Itemmmmmmmmm … woo ooooow ….. Erangan wanita cantik yang alim ini sungguh tak terduga….ternyata wanita berjilbab sangat nikmat untuk di-entot…dikennyot…dan dilahap memeknya.Pemandangan yang sungguh kontras….kesehariannya berjilbab…namun kini telah telanjang bulat bagai ular betina yang buas.. Saat bibir saya sudah mendekati daerah sekitar pinggulnya … mulut dan lidah saya tidak berhenti menjilati daerah pinggul Mbak Umi. Tanpa meminta .. saya balikan badan Umi .. dan mulai menjilati kedua bokong pantat ………. nya. “Iteeeeeeeeeeeeeeeeeem … apa yang kamu lakuin ? Kamu nekaaaaaaaaaaaaad ….. tapi enaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak terusin …… sayang ochhhhhh …. achhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” Saya berusaha untuk membuat suasana nikmat dan berusaha mengimbangi gerak tubuhnya yang semakin liar saat saya pelan – pelan membuka kedua bokong pantatnya kerasssss ……. “Jangaaaaaaaaan … ” sambil desahan occcchhhhhh achhhhhhh hmhmhmhm makin mengganas … saya tidak menghiraukan teriakan tersebut karena feeling saya mengatakan Umi menikmati sensasi nikkkkkkmat ini saat pantatnya kugigit pelan..di jilaaat. Entah karena nikmat atau merasa tidak nyaman dengen posisi tersebut … Mbak Umi menekuk dan membetulkan kakinya sehingga sekarang dia nungging. Sebuah posis yang sangat bagus buat lidah dan mulut saya memainkan seluruh daerah pantat dan lobang kemaluannya,teriakan kenikmatan tidak berhenti … enaaaaak Item .. terusin ….. sayaaang … Lidah saya makin ganas menyerang lobang vagina Mbak Umi.. dan pelan pelan saya mulai menarik kedua kakinya sehingga posisinya menjadi tertelungkup … Bibir dan lidah saya memindahkan sensasi dari daerah lobang kemaluan menuju ujung jari – jari kakinya. “Iteemmmm .. enakkkk .. terusin sayang .. fuck me hard sayang …. lick me … give me alll” saya tekuk kakinya sambil mengulum ibu jari kakinya sambil jari tangan saya memainkan daerah sekitar pussy Mbak Umi. Keringat sudah mulai membasahi punggun Umi.. … pelan tapi pasti … jilatan saya menyusuri betis dan naik ke daerah paha Mbak Umi naik kembali ke lobang kemaluan Umi.. saya sudah tidak terlalu menghiraukan segala teriakan ahhhhhh ooohhh enaaaak lagi … karena konsentrasi saya sekarang mulai untuk memberikan fantasi pada daerah rambut2 halus di memeknya .. tiba – tiba teriakan Umi semakin keras ….. keras …….. dan kerass… lahar dan banjir hangat membasahi mulut saya … saat itu orgasme pertama Umi sampai ke puncaknya …. sambil menjepit kepala saya dengan kedua paha saya Mbak Umi mencapai orgasme pertamanya ….. Iteemmm saya mo kaluaaaaaaar …. sedotan saya ke lobang pussy nya semakin ganas …. Itemmmm … Mbak keluaaaar .. sambil berteriak …. vaginanya memuntahkan banyak sekali juice .. wondeful …. permainan tahab pertama yang nikkkkkkkkkmat …… erangan dan gejotan mbak Umi dari yang sangat liaar sambil lidah saya dan mulut saya tidak berhenti mempermainkan vaginanya ……….. enaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak …. nikkkkkkkkmat oh my gooooooood .. I’m cuminnnn sayangggggg …….. ooooohhhhhhhhhhhh achhhhhhhhhhhhhh hmhmhmhm enaaaaaaakkkkk Itemmmmmmmm…… Umi akhirnya terbaring ….. saat orgasmenya mencapai puncak … sambil butir – butir keringat di punggungnya semakin banyak.

Umi berbaring tertelungkup … sambil kami saling ciuman … saya bantu mengeringkan keringat di payudaranya,saya lap dengan kerudung putih yang tadi dipakainya. dengan posisi berbaring menyamping …. sedang berusaha untuk membangkitkan kembali gairah Umi.Sambil mengelus kepala saya .. Umi berbisik …. “Maaf yah Item .. Mbak sudah duluan keluar” saat itu waktu sudah menujukan pukul 2 siang … perkiraan saya .. pergumulan pertama tidak sampai 45 menit. “Tidak apa – apa Mbak” jawab saya sambil tangan saya tidak berhenti mengelus payudaranya. Pelan – pelan saya mengecup kening nyA sambil menjilati keringat di kening dan turun ke pundak nya … “Kamu nakal Itemmmmmmmmmm ….. tapi Mbak sukaaaaaaaaaaaa banget … belon pernah Mbak ngalamin ini ….belon pernah Mbak dijilat seluruh badan seperti yang kamu lakukan” …… “kalo Mbak mau nambah saya lakuin lagi … hehehehehh” jawab saya sambil mengelus pinggulnya. Paha Umi pelan – pelan mulai di gesek – kesek didaerah paha saya. Umi kelihatan sedang berusaha untuk membuat penis saya kembali erect. Tangan saya masih asyik mnegelus gelambiran daging di sekitar daerah pinggulnya sambil mulut kami berdua sudah saling bertautan ….. ciuman pelan .. makin hangat …. hmhmhhmhm. Ciuman Mbak Umi semakin ganas ditengan erangan kenikmatan yang perlahan menanjak menuju ke puncak kenikmatan ….. gesekan paha .. erangan hmhmhmhhmhmhmhm aaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh dari Umi semakin menaikan birahiku ke puncak puncak kenikmatan ……. Dengan vagina yang masih berlumuran cairan …….. di tambah kocokan jari tangan saya … semakin membuat lobang memek Mbak Umi enak untuk di suck.Saua memungut jilbabnya yang jatuh di lantai untuk membersihkan tetesan cairan di sekitar vaginanya. Saat saya merasa bahwa timing itu sudah pas …….. sambil mendorong tubuk nya untuk tidur telentang ….. saya berusaha untuk menaikan kedua kakinya ke pundak saya ….. Mata saya menatap sebentar lobang vagina untuk mengukur kemampuan jepitan vagina sekaligus jari – jari telunjuk saya dengan perlahan dan lembut mengelus dan mempermainkan lobang vagina tersebut. Jari – jari tangan saya membelai lembut daging lembut itu … sesekali menekan dan mempermainkan itilnya … sambil erangan dan goyangan .. teriakan .. dari mbak Umi semakin seru ………………. Massssssss … masukinnnnnnn … Umi udah gak tahaaaaaaaan lagiiiiiiiiiiiii … Massssssssss … ngentotin memek saya …………….. pleaseeeeeeeeee …… Masssssssssssss .. ngentotin sayaaaaaa … Pada saat yang pas …. saya mulai mendekatkan dick saya …. membimbingnya mendekati lobang memek yang semakin memerah tersebut …. dan ………….. bleeeeeeeep … achhhhhhhhhhh .. wow …. nikmaaaaaaaaaaat banget …. dengan perlahan tapi pasti saya mulai menggerakan pinggul saya mengimbangi gerakan – gerakan yang semakin liar. Saya mengocok makin ganas, dengan kedua kakinya terangkat di pundak saya. Saya melesakan penis saya masuk ke vagina Mbak Umi hingga menyentuh dinding terdalamnya, dengan disertai dorongan yang semakin keras .. cenderung kasar saya merasakan seakan akan terbang ke awang awang kenikmatan. Buah dada Umi ikut bergoyang goyang seirama kocokan saya. Wow, very nice breast, buah dada yang semakin menggantung . gede .. I love it komentar saya dalam bathin. Gerakan – gerakan kami berdua semakin kasar . teriakan enaaaaaaaaaak . ngentot . dan kata – kata kasar keluar dari mulut mbak Umi semakin menambah gairah kami berdua .. Ngentooooooooooooooooot Mas .. Ngewein gueeeeeeeeee Iteeeeeeeeeeeeem … perkosaaaaaaaaaaain saya sayaaaaaaaaaaaang . Tangan saya tidak ketinggalan bergerilya di sekitar dua bukit kembar mbak Umi .. meremas .. keraaaaaaaas .. dan semakin .. keraaaaaaaas. Maaaaasss … aaaooookkh mmmphh… ngentooooooot … gumam mbak Umi. Mmmpphh… puaskan aku yach sayang ……. rengek mbak Umi manja. Penisku yang berukuran 16 cm semakin dalam menjejali lobang memek Umi menekan dan membiarkannya lebih dalam terbenam sambil memainkan otot-otot penisku untuk memberi rasa geli pada gadis berjilbab ini. Iteeeeeeeem … ooaaakhh… aakhhh… mmpphhh.. nikmat sekali, kamu pinteeeeer ngeeeeeentot Item … puji mbak Umi.Mau yang lebih nikmat sayang .. !!? tanyaku. Occccccccchhhhhkkkk hmmmmmmmm … mbak Umi hanya memejamkan matanya menyambut apa yang akan aku lakukan atas vaginanya. Sangat cantik wajahnya..tubuh mulusnya yang selalu tertutup jilbab kini telanjang bulat,terpampang jelas dan menggairahkan. Pelan namun pasti aku mulai mengocok lagi lubang yang lebar dan semakin memerah tersebut. Acccccccchaaghh… aaghhh… ssshhh mmfffh… terusshh… aaannggghh … ceracau Umi. Aku sedikit menarik dadaku agar tubuhku tegap berdiri dengan begitu kepala penisku akan dengan mudah menyentuh G-spot-nya. Aaakkhhh.. yacchhh.. yaahh… mmpphhh… aaanggghhh yaaaaaaahhh, Ratih semakin tenggelam dalam irama birahinya. Ia meremas sendiri kedua payudaranya dan kadang putingnya ia tarik sambil dipilin-dilepas lagi dan diulangi lagi berulang sehingga ia sendiri semakin tenggelam dalam ritme yang mengasyikkan ini. Aaaghkku.. agh ahhk… aaahh… aahh.. aamphh… Ratih melepas kedua tangannya dari dadanya dan berpegangan erat pada kedua sisi tempat tidur. Kepalanya oleng seperti orang kesurupan lalu dadanya ia busungkan, pinggulnya bergelinjang penuh dengan gairah birahi yang mendalam. Kami semakin jauh tenggelam dalam irama permainan ini dan tak menghiraukan lagi suasan sekitar kami. Segelas wine yang berada di di atas meja kecil saya ambil … Sambil saya tuangkan sekitar paha, pinggul dan buah dada Ratih.. Tangan saya tidak ketinggalan meremas buah dada mbak Umi sambil menarik – narik putting susunya yang semakin membesar .. aak… aahhh … aku tak sanggup menahan laju spermaku dan bersamaan itu pula. Maaaaaaas .. aaaccccccccccckh… aaaghhh … Umimenjerit dan memegang erat kedua sisi tempat tidur, pinggulnya ia hentakkan se-kencang-kencangnya. Aaagghh .. desahku keras. Rupanya denyutan penisku saat maniku memancar menyebabkan Umi kegelian dan buru-buru ia bangun lalu mendekapku erat-erat. Kami berdekapan mesra sampai tetes maniku terakhir aku rasakan. Kami berpelukan dalam posisi tersebut cukup lama … saat pelan – paln saya manrik kontol saya keluar dari lobang vaginanya … tetesan sperma saya pelan – pelan mengalir dari lobang vaginanya .. sambil berdiri … saya sodor-kan kontol saya yang terlihat tertidur tersebut .. MBak Umi mengambil jilbab yg tergolek di lantai untuk membersihkan sisa – sisa sperma yang tercampur cairan vagina nya.

Guru Jutek Ternyata Enak

Nah cerita ini ada waktu gw kelas 2 SMA.waktu taun ajaran baru ada guru baru sebut aja namanya Bu Anggun.Waktu upacara gw mah ga perhatiin muka ataupun bodynya.Tapi waktu gw di kelas ternyata dia guru fisika dalam pikiran gw kalo guru IPA tuh cewe gw ga bakal mudeng.

Berlanjut penjelasan ke bodynya tuh guru setelah 1 bulan diajarin sama dia gw liat-liat ternyata dia tuh cantik banget dan toketnya itu loh!!!.Beuh,mantap banget umurnya 26, tingginya tuh kira-kira 163 cm dengan toket kira-kira 36B,pake kacamata,pantatnya sekel banget,rambut sebahu.Udah kaya guru di film bokep deh pokoknya.tapi ada satu yang gw keselin dari guru ini kalo ama anak yang berisik ato bandel di kelas dia tuh jutek banget tapi kebetulan gw pendiem kalo dikelas jadi dia biasa aja sama gw.
Waktu itu gw ga masuk sekolah tapi hari selasa diumumin ada ulangan sedangkan gww gak tau apa-apa.Nah,disini gw putusin buat nelfon si Bu Anggun.
“bu,ini andre hari rabu ada ulangan yah?” gw nanya “iya ndre,rabu ada ulangan.kamu tadi ga masuk kan” jawab dia “ya bu,gimana kalo sekarang saya ke rumah ibu soalnya saya ga ngerti apa-apa bu” “mmm…yaudah jam 5 kamu ke rumah ibu” gitulah percakapanya.Rumah dia sama rumah gw ga jauh paling cuma 20 menit naik motor jadi gw gampang kalo ada pelajaran yang ga ngerti.
jam 4.30 sore gw ke rumah Bu Anggun 5 kurang gw udah nyampe.Nyamoe depan rumahnya gw telfon Bu Anggun biar dia bukain pintu rumahnya.Ternyata rumahnya bagus bro mungkin dia anak orang kaya kali tapi lagi kerja praktek mungkin.Begitu dia keluar gw bengong ngeliatin dia emang sih ga pake baju yang mini tapi ketat-ketat gitu.Dia pake celana panjang skinny kaya anak-anak gaul jaman sekarang pake kaos oblong ketat sampe toketnya keliatan lebih gede dari dia pake baju kerja.

Skip skip…Pas gw lagi belajar dan gw lagi bengong dia nanya “kenapa ndre masih ga ngerti?” “udah si bu” jawab gw “mmm gimana nanyanya yah?”muka dia bingung “ndre,kamu pernah mainin burung kamu yah waktu di kelas?” “hah,engga kok bu” jawab gw malu “bohong kamu ibu pernah liat kamu masukin tangan kamu ke kantong celana terus kaya ngusp-ngusep burung kamu waktu pelajaran ibu” pedahal bener apa yang dia bilang soalnya waktu itu dia rambutnya dikuncir trus pake kaya blues yang lehernya ditaro dibawah toketnya jadi kenceng keliatanya makanya waktu itu gw horny banget.entah kenapa gw ditanya gitu langsung ngaceng.
Dan mungkin ada setan lewat gw langsung pegang tanganya dan dia ga ngelawan.
Karena respon dia kaya gitu gw langsung aja cium bibirnya dia.Waktu kita cipokan gw pelan-pelan buka bajunya ternyata dia ga pake BH bro gw ga tau kalo dia ga pake BH soalnya dia ga pake baju transparan.
Lalu dia buka retsleting celana sekolah gw menurunkan CDnya dan mengelus-elus penis gw dengan lembut,
“auh.. uh.. uuh ..” rintihku menahan kenikmatan semantara Bu Anggun sibuk dengan aktivitasnya
“ah .. mmhh.. Bu stop bu” rintihku karna gw ngerasa dia guru gw
diaa ngga jawab, malah semakin hebat menyedot penisku. Tubuhku semakin mengejang.abis itu kita balik ciuman
Bu Anggun melepaskan ciuman dibibirnya lalu mengarahkan kepala ku kebawah yaitu toketnya.Gw mulai meremas-remas dadanya, sekali-sekali gw puntir putingnya sampe dia melenguh panjang. Puas ngeremes gw lalu menyapu seluruh dadanya dengan lidahku dan menyedot ujung putingnya sambil digigit-gigit sedikit.

Gw udah ngga sabar lagi. Batang penis yang udah dari tadi tegak berdiri ingin sekali merasakan jepitan vagina guru cantik nan montok itu. Akhirnya, perlahan kumasukkan batang penisku ke celah-celah vagina. Sementara tangan Bu Anggun membantu menuntun tongkatku masuk ke jalannya. Kutekan perlahan dan…
“Aaah…”, suara itu keluar dari mulut Bu Anggun setelah penisku berhasil masuk ke dalam liang senggamanya.
Kupompa penisku dengan gerakan naik turun. Desahan dan erangan yang menggairahkanpun meluncur dari mulut guru ini yang sudah semakin panas birahinya.
“Aach.. Ach.. Aah.. Terus ndre.. Lebih dalam.. Lagi.. Aah.. Nik.. Mat..”,Bu Anggun mulai menikmati permainan itu.
gw terus mompa titit sambil mulutku melumat habis kedua buah dadanya yang montok. Mungkin sudah 20 menitan kami olahraga.Gw merasa sudah hampir
tidak tahan lagi. Batang kemaluanku sudah nyaris menyemprotkan cairan sperma.
“Bu.. Punyaku sudah mau keluar..”
“Tahan seb.. Bentar sayang.. Aku jug.. A.. Mau sampai.. Aaach..”, akhirnya Bu Anggun tidak tahan lagi.
Kamipun mengeluarkan cairan kenikmatan secara hampir bersamaan. Banyak sekali air mani yang aku semprotkan ke pipi bawah Bu Anggun, hingga kemudian kami kecapekan dan berbaring di atas meja makan yang besar.

5 menit setelah kita istirahat gw mulai lagi permainanya.gw remas buahdada Bu Anggun kencang sia berteriak langsung gue masukin titit gue ke mulut guru ini yang menganga karena gue remas buah dada pelan-pelann ndre,hhhmmppp.desah Bu Anggun saat burung gue masuk ke mulut nya yang mungil.perlahan gue gerakin pantat gue maju mundur menyetubuhi mulut Bu Anggun.
ooohhhh..oohhh..ooohhhh….enak nya mulut ibu
ooohhh..oohhhh..sambil gw terus remas-remas buahdada nya nya bikin gw gemess.Setelah hampir 10 menit berlalu gue ngerasa klimaks gw dah mau nyampe gw gerakin titit gw lebih cepat hingga akhir nya crrroottt…crrroootttt,,,crrrooottt,,sperma gue masuk terlelan Bu Anggun,tampak si ibu gelagapan meliat gw klimaks kedua sedangkan kayanya si ibu orgasme sampe 3 kali.
selesai deh permainan gw di atas meja makan

“gila kamu ndre ibu puas banget sama kamu” si ibu bilang
“iya bu saya juga puas banget sama ibu” gw bales
“kamu paling hebat ibu bisa sampe 3 kali orgasme”
“gimana..lebih enak dari pada cuman liat dan coli khan..?”tanya dia
“jauh lebih enak bu”
pengen banget gw nyobain ulang ngesex bareng Bu Anggun.

Tante Hesti Yang Hot

Waktu itu aku masih kelas 2 SMA didaerah Jakarta Selatan, aku tinggal sama bokap, cuma bokap aku suka pergi dinas keluar atau dalam negeri sehingga aku sering tinggal ber-2 dengan tanteku.

Begini ceritanya…
Tante Hesti belum menikah karena tunangannya sudah menikah dengan orang lain umurnya kira-kira 36 th, tinggi 168cm dan Bra 36A (aku tau setelah tante tidur dipelukan aku), mulanya aku biasa aja dengan kehadiran tante Hesti, namun karena seringnya kami berdua dirumah maka aku sering melihat hal-hal yang bisa bikin aku konak, contohnya kalau tante sering berpakaian minim dan transparan.

Suatu sore aku baru pulang sekolah karena lelah habis bermain basket hanya tidur-tiduran di depan TV tiba-tiba terdengar suara mobil masuk dalam garasi, oh ternyata tante Hesti pulang dengan menenteng tas kerja.
“Hallo tante, baru pulang?” tanyaku pada tante Hesti.
“Iya Al, tante cape sekali.”
Mungkin karena udara diluar panas sekali kemudian tante langsung masuk kamar mengganti baju,namun alangkah terkejutnya aku dan kontolku melihat tante hanya menenakan daster putih transparan dengan tidak memakai BH dan nampak CD hitam transparan sehingga terlihat bulu-bulu halus disekitar Memek tante, lalu tante berdiri dihadapanku (pas diatas TV ada AC) sehingga dengan leluasa aku melihat pemandangan indah dalam hidupku, kemudian duduk disebelahku sambil sedikit-sedikit melirik kearah “TT” tante.

Dari disitulah aku jadi penasaran untuk nyobain memek tante Hesti, malamnya aku hanya bisa onani sambil membayangkan pemandangan tadi siang.

Keesokannya waktu aku pulang sekolah ternyata tante sudah pulang kerja, seperti biasanya sebelum aku menyapa aku terpana melihat paha mulus tante yang hanya menggunakan celana stret warna putih menerawang sehingga jelas CD warna ungu dengan model G-string yang hanya menutupi garis memek
tante.
“Hai tante, sudah lama pulang kerja?”, namun sapaan aku tadi dengan disertai rasa sakit di pangkal paha (pura2)
“Kenapa Al?” tanyanya.
“Ini tante, tadi main basket keram!” lalu aku pergi mandi dengan niat tidak mau memakai CD biar
terasa kalau bergesekan dengan tante Hesti. Pas aku selesai mandi ternyata tante mandi juga dikamar mandi pribadi.

Jam menunjukan Pukul 20.00 waktu itu hujan deras sekali diluar, tante Hesti keluar dari
kamar (seperti biasa aku disuguhkan pemandangan Meky + TT) dengan memakai daster tipis warna hitam dengan CD Putih transparan.
“Tante cape tidak kalau pijit kaki aku yang tadi keram?” tanyaku memaksa..
“Boleh, tapi kalau tambah sakit jangan salahkan tante ya?.”
Aku tengkurap diatas kasur mini, tante pun mulai mijit betis karena pikiran aku teringat waktu pulang sekolah tadi sehingga Kontolku terasa sesak waktu tengkurap.
“Sekarang dengkulnya sini,” aku langsung berbalik tanpa ingat perubahan yang terjadi dicelana
Boxer hitamku. Tante hanya tersenyum melihat Kontol aku.
“Kok kamu ngaceng Al?” dengan malu aku bilang,
“Tau nih tante mungkin karena dipijit tante kali”
“Masa dipijit kakinya punya kamu yang tegang?” dengan tiduran sambil dipijit berhadapan aku ngerasa tambah konak kontolku sehingga kepala kontolnya keluar, tante Hesti mendesis “HAA..H!” mungkin karena tante kaget melihat kontolku ia berkata,
“Al, tante baru lihat Burung cowok gede gini?” (ukuran kontol aku 22cm, diameter 4cm), tidak tau apa yang terjadi tiba-tiba aku berani bertanya,
“Emang punya tunangan tante tidak segini?” tante Hesti hanya tersenyum malu, entah disengaja atau tidak tante meremas-remas kepala kontolku sambil lidahnya melet-melet setengah dari mulut, aku hanya berdesah nikmat sambil ngusap rambut tante.
“Al, tante pingin ngerasain kontol yang gede kaya gini, boleh tidak?” aku tidak terbawa nafsu aku hanya nanya.
“Berapa gede punya tunangan tante?” tante jawab “1/4 punya kamu.”
“Kalo gitu boleh deh, cuma dikamar mama ya? biar romantis!”
Kemudian aku dituntun kekamar, aku hanya berdiri berhadapan kemudian kami berpelukan sambil
melumat bibir tante yang tebal, tangan kiri aku merayap kearah TT dan yang kanan aku usap-usap dan remes pantat tante Hesti, tangan tante mungkin juga tidak mau kalah menarik celana sehingga dengan tarik sedikit celana muncul lah kontolku yang udah ngaceng abis. Kemudian tante turun kearah perut terus sampai tersodok kontolku, sempat terdiam tante melihat kontolku.

“Jangan lama-lama cium ya Al, tante pingin kontol kamu!”
1/2 jam puas spongin kontol aku lalu mengarahkan kearah memek tante yang udah basah menarik badan ku sambai terjatuh dikasur mama yang empuk,
“Cepat Al, jangan siksa tante.. please.. ”

Kemudian aku turunkan kepalaku kearah memek tante yang udah berlendir dan beraroma bunga (ternyata tante Hesti rajin merawat memeknya dengan terapi pengasapan). 15 menit puas jilatin dalem memek tante, mulut tante tak berhenti-hentinya bilang “ooh… Al.. jangan dimainin terus..masukin dong Al..” sambil suara terputus-putus.
“Ooh… ochh…” aku bimbing kontolku kearah memek terus aku gesek-gesek sambil teken kedalam, terasa sempit memek tante sehingga aku tanya
“Tante belum pernah ML ya? Kok sempit begini tan..?”
“Bukan nya belum tapi kontol kamu yang kegedean untuk memek tante Al..” sambil merem melek mata tante dengan sedikit demi sedikit akhirnya masuk 1/2, mata tante melotot akhirnya aku hentak dengan kerasnya…
“Blessss..” masuk semua tante menjerit histeris…
“Sakit Al… pelan-pelan”
“Nikmatin aja tante, Al juga nikmat tante.. memek tante legit amat sih..”
“Oochh.. ooh… A.. ll.. och nikmat banget kontol kamu..” sambil terus aku gesek, tekan dengan keras aku merasakan peju tante beberapa kali keluar dengan mencakari tangan aku..

2 1/2 jam kami ngentot akhirnya teras penuh di ujung kontolku,
“Tante..Al mau kelu..ar..” aku mendesis-desis menahan keluarnya maniku..
“Keluarin di da..lem me..mek tante aja”, dengan suara terputus-putus akhirnya pejuku muncrat didalam.

Memek tante Hesti sampai banjir keselangkangan. Tante Hesti terkulai lemas dengan memeluk badanku sambil menciumi mukaku.

“Al..kenapa tidak dari kemarin aja sih tante tau kalo kontol kamu kaya begini? Tante begitu
tante mendingan aja kawin sama kamu biar setiap hari tante dientot sama kamu…”

“Tidak usah kawin tante, kalo tante mau tiap hari juga Al kasih, Al juga ngerasa ketagihan sama memek tante…” kemudian kami tertidur sampai pagi. Hari itu tante minta cuti dengan menelpon kawannya sehinnga kami berdua bisa se harian ngentot.

Itu lah ceritaku yang udah lama terpendam. Sekarang tante Hesti berada di Australia untuk melakukan riset, aku pun merindukan memek tante Hesti namun kami sering telp malah terkadang kami bercumbu di telp. Tante, Al merindukan kamu….
Thanks Tante…. Miss ‘U…

Tante Digilir 3 Brondong SMA

Mendung tebal angin dingin mulai menghembus, aku terus melaju mobil ku melintasi jalan raya yang agak sepi, aku baru saja mengunjungi salah satu nasabahku yang tempatnya agak jauh dari kota, aku harus melewati jalan raya yang sepi dan jauh dari perumahan penduduk.Tiba tiba saja aku merasakan ban mobilku kempes, lalu aku menoba berhenti dan memeriksanya, ternyata ban belakang sebelah kiri kempes.”ah g papa pasti aku masih bisa menaikinya sampai di kota” pikirku.

Dan ketika aku membuka pintu mobilku, aku tak bisa membuka nya.Astaga aku menutup pintu mobilku dan kunci mobil masih mengantung di dalam, haaa…dasar sial. aku mencoba mencari Hpku, Oh no..! Hp dan tas ku juga di dalam mobil.

Hujan mulai turun aku bsah kuyup kehujanan, mana sudah menjelang malam, tempat sunyi kek begini weeeeeeh….merinding rasanya.Setelah 20 menit berlalu aku melihat lampu mobil, aku melambai lambaikan tanganku.
Mobil itu berhenti dan ternyata pengendaranya adalah anak anak muda, sepertinya pelajar SMU.

“eehhhmmm….boleh minta tolong g dik, pinjem Hp nya buat telpon ke rumah, bentar aja,kunci mobil aku kekunci didalam mobil,dan tas aku di dalam juga” kataku sambil gemetaran menahan dingin.

“waduh mbak..eh tante masuk mobil aja dulu, biar g kedinginan” jawab salah seorang darimereka.Aku masuk kemobil, karena memang kedinginan.

“aduh sorry ya mobil nya jadi basah” kataku. ternyata dimobil itu ada tiga orang remaja yang masih berseragam SMU, bau mobil terasa banget bau rokok, dan seperti nya mereka abis minum minum.

” ah g apa apa tante, ini HP nya ,telpon aja dulu” kata pemuda itu sambil menyerahkan HP.

Berkali kali aku coba menghubungi G ada yang menjawab,tidak biasanya di rumah sepi jam segini, gerutuku.
“G ada yang angkat ya tante?” tanya pemuda yg di sebelahku.
“iya, g tau kemana mereka” kataku mulai gelisah.
” kalo begitu kita anter aja deh tante, rumah nya dimana”jawab pemuda yang di depan.
“wah agak jauh dek, di jln kartini” jawabku
” gpp tante paling juga 30 menit kan dari sini” jawabnya lagi
“iya deh makasih kalo g keberatan nanti aku ganti uang bensin nya ya” kataku lagi

Mobil melaju,agak perlahan karena hujan lebat sekali, aku semakin kedinginan karena baju yang aku kenakan basah sekali.Aku mencoba menggosok gosokkan telapak tanganku, untuk mengurangi ras dingin.

“Riki lepas donk jaket lo, kasih ke tante biar g kedinginan, lo mah dah liat gitu di diemin aja” kata pemuda yang menyetir mobil. kemudian pemuda yang duduk di kursi depan melepas jaket nya dan memberikan nya padaku.

“kenalin tante yang di sebelah tante tuh namanya Dendi, nah ini Riki, and gw Angga ” kata si angga mengenalkan diri.
“tante masih dingin ya, mau gw peluk tante biar agak hangatan dikit” tanya si Dendi tiba tiba. aku tak menjawab karena tubuhku bener bener gemetar kedinginan, aku biarkan saja si Dendi memelukku.aku mulai merasakan hangat di tubuhku. aku memejamkan mataku.

Tiba tiba aku merasakan sesuatu merayap ke buah dadaku, aku membiarkan nya,aku pura pura tak merasakan apa apa,aku merasakan nafas Dendi mulai takteratur.perlahan perlakuan Dendi membangkitkan gairahku, aku geserkan tubuhku sedikit agar Dendi bisa leluasa bermain main di payudaraku.
Dendi menngecup kupingku, yang seketika itu mengalirkan getar birahi, yang secepatkilat menjalar keseluruh tubuhku.

“oh..ssshhhh…..aaahhh” desahku,
“tante…aahhh …kamu cantik sekali” desah Dendi, sambil perlahan mulai meraih bibirku, kami berciuman, lidah Dendi bermain main di ronngga mulutku, tanganku mulai aktif, menjamah dan mengelus apapun yang bisa aku elus dari tubuh Dendi.Aku benar benar lupa kalo di mobil itu ada oarang lain.
dan tanpa aku sadari aku merasakan elusan elusan lain di pahaku, sementara tangan Dendi masih memainkan payudaraku, dan bibirnya masih terus melumat bibirku.

“ahk…aahhh…aaaaahhh….”aku terpekik mana kala elusan elusan itu menyentuh sesuatu yang paling sensitif itu. rupa nya Riki tanpa kusadari telah berpindah tempat, Riki terus mengelus dan mulai melepas celana dalamku, aku benar benar di derai perasaan nikmat yang teramat sangat.

“ooohhhh….terusin…oh yah…aaahhh” desahku mana kala Riki mengelus elus Vaginaku dan sesekali menyentuh clitku dengan jempolnya.
Dendi meucuti pakaianku, melepas braku, aku benar benar tak kuasa menolak kenikmatan itu. Dendi melumat , menghisap dan mengulum puting payudaraku bergantian. dan Riki mulai menjilati bibir kemaluanku. sunnguh kenikmatan yang luar biasa menyerang aku dari bwah dan atas.

“tante…nikmat sekali payudara tante ” kata Dendi.
“isep Den..terusin Den…aaah” ceracauku.
“oooohhh….Ki aahhh…masukin jari nya ki…terus ki…Buka ki masukin lidah kamu Ki…oooohh” aku semakin gila.Aku mengangkat angkat pantatku sambil tanganku menekan kepala Riki yang sibuk menjilati kemaluanku.
“aaaahhh…Tante memek tante enak sekali…Riki suka sekali” kata riki
“aduh kalian jahat ya…masak gw suruh nyetir mobil sambil kontol gw ngaceng kek gini” celoteh Angga.

” Den…tante buka ya” kataku sambil meraih seleting celana Dendi. Dendi pasarah saja. Gundukan yang keras di balik CD biru itu membuat aku tak tahan ingin segera menikmatinya. Dendi bangkit dan melepas celana dan CD nya. Riki mengikuti hal yg dilakukan Dendi, kemudian aku duduk diantara mereka, kedua nya melumat payudaraku bergantian, sementara aku melebarkan kakiku, sebelah kiri ke Riki dan sebelah kanan di atas paha Dendi, jelas sekali memekku yang basah itu terpampang dengan jelas nya.
sementara kedua tanganku sibuk memainkan titit Dendi dan Riki.

tangan Dendi merambat turun dan menyentuh vaginaku, aku mengeliat ketika jari riki mulai menusuk lubang vaginaku. kemudian aku merubah posisiku, dengan membelakangi Riki dan mengoral titit Dendi. tapi kemudian riki menarik pantatku dan mengangkat nya, sehingga posisiku setengah menungging.

” aaahh…tante…isep tante…oooohhh nikmat sekali” ceracau dendi
“isep kontol gw tante….oooohhhh …terusin tante ….isep…”dendi mengeliat tak karuan ketika buah jakar itu aku isep dan aku coba masukkan semua kemulutku.
aku terus mempermainkan kontol Dendi, menusuk nusukkan ujung lidah ku ke lubang yang kecil itu.

sementara itu, Riki memberiku sensasi yang luar biasa, ketika lidah dendi menyapu anusku,memainkan lidah nya di anusku. tiba tiba aja Angga mengejutkan kita semua.
“Dah sampe neh…giliran gw kalian mundur semua ” kata Angga sambil membuka pintu mobil, yang tanpa aku sadari ternyata kita sudah di dalam ganransi mobil Angga. kemudian Dendi turun yang diikuti oleh Riki, mereka berdua tergopoh gopoh memakai kembali celana mereka.
angga menarik jaket yang hendak ku kenakan kembali, dan menarik tanganku keluar dari mobil, dalam keadaan baju yang terbuka dan bra yang terlepas, Rok yang berantakan, Angga menariku masuk kerumah nya, aku mengikuti saja.

“gantian, lo harus muasin gw, dari tadi gw dah ngaceng negliat tingkah kalian” kata si Angga yang sambil mendorongku jatuh ke sofa, kemudian dengan kasar dia membuka celananya sendiri dan menyodorkan kontol nya yang sudah mengeras ke mulutku.
“ayo isep bich…hah…ayo!” Dengan kasar Angga menyumpal mulutku dengan kontolnya.

Aku mengisap, kontol angga memainkan dengan lidahku,sesekali aku kocok dengan tanganku. lidahku berputar putar di seputar buah pelirnya.
“oooh yah…terus sayang…isep…lo emang lihai…aahhh…aaahhh”
‘ kontol kamu enak banget Ngga…aku suka banget” aku mengumam menikmati kontol Angga.
“ngga …boleh ya aku isep kontol lo ampe keluar? ” godaku
” Iya sayang….aahhh….isep sayang…oooohhh….yah begitu…begitu sayang terus…terusin..” angga meracau menikmati seponganku.

Aku merasakan kedutan di batang Angga, yang aku tau dia sebentar lagi bakal menyemburkan pejuhnya, aku sengaja mempermainkan Angga, dengan menghentikan aktifitasku, aku melepas kontol itu dari mulutku.

” sayang kenapa berhenti…ayo donk isep lagi…dah mau keluar neh…ayo donk” rayu Angga sambil menyodorkan kontol nya ke mulutku. aku tersenyum sambil berdiri.
” he he he …nanti donk Ngga…aku haus nih…boleh minta minum ya?” godaku.
“g boleh ayo …isepin dulu ampe keluar please donk sayang…ayao..” kata angga sambil mengelus elus pantatku.
” kalo lo bisa buktiin ke aku kalo lo bisa muasin aku….aku mau isep punya kamu ampe keluar” tantangku
” dasar perempuan….sini gw puasin lo minta yang gimana hah?” angga geram mendengar tantanganku. kemudian dengan kasar dia membopong tubuhku ke meja makan. Angga menciumiku dengan kasar, yang dimana buat aku semakin membakar gairahku, ciuman angga semakin ganas, dari telingaku kemudian leherku menjadi sasarannya, dengan kasar Angga melucuti pakaianku sehingga aku berbugil ria.

dalam sepintas pandang aku melihat riki dan Dendi yang ternyata dari tadi melihatku sambil beronani. ciuman angga turun ke payudaraku, memilin milin putingku dengan liah nya, semnetara tangan angga menyusuri pahaku, mengelus dan mulai meraba raba vaginaku yang sudah basah. aku merenggangkan kakiku agar angga bisa leluasa memainkan vaginaku yang becek.

angga memasukkan jari nya ke memeku mencoba mencari G spot dan mengocok nya dengan gerakan yang cepat.

” oh ya…yah…yaaah…terus ngga…terus” ceracauku
“lo suka hah…enak kalo memek lo gw beginikan hah”
“iya ngga..terusin sayang…oooohhh..nikmat nya nggak…terus ngga”
” ayo bilang lo mo gw apain…mo gw isepin …mo gw entot memek lo ini hah”kata angga sambil mengocok memekku dengan jarinya. kemudian angga mengangkat tubuhku agar aku duduk di meja makan, kemudian angga mulai menggisap memekku dengan lidah nya.
” ayo bilang bich..enak g gw giniin…hah…memek lo udah basah..memek lo udah gatal kan?”
” iay ngga…memk aku udah g sabar minta lo entot..ayo ngga masukin ngga…aku mohon”
aku merintih memohon pada angga agar segera mengentotku.
“hhmmm…memek lo nikmat …ooohhh…aku suka sekali” ceracau angga
‘ nggak…ooohhh….aaaahhh….gigit nggak itil aku ngga…iyah begitu…ooohhh”
” lo suka dikasarin yah…heh….gw akan entot lo…ampe lo puas”
“ngga …ayo ngga masukin ngga…aku udah g tahan” rintihku, sambil terus meremas remas rambut angga, angga seakan akan sengaja mempermainkan gairahku, dia terus mengisap memeku dan jarinya menusuk nusuk memekku.

Riki dan Dendi mendekati aku dan angga, yang kemudaian dendi segera meraih payudaraku, sementara Riki melumat bibirku, sungguh pengalam luar biasa yang belum pernah aku rasakan, di serbu dari segala arah membuat aku semkain tak bisa menahan dasyat nya kenikmatan itu.

” aaahhhkkk….ooohhh….aku…ak…aku ke..keluar nggaaaaaa….aaah…aaahhh” aku menjerit sambil tanganku menekan kepala angga, aku mengalami orgasme yang teramat hebat.

Angga berdiri dan menarik tanganku, aku mengikutinya, disusul dendi dan riki, Angga membawaku ke ruang tamu, kemudian angga mulai mencumbuku kembali, kali ini Angga menyuruhku duduk di sofa, dan dengan nafsu yang meletup letup angga menciumi bibirku.
kemudian angga memutar tubuhku, kakiku disandaran sofa sementara kepalaku menggelantuh kelantai, kemudian dendi menarik kakuku agar lebih naik.
kemudain angga mengangkangi kepalaku dan mulai menyodok nyodokkan kontol nya ke mulutku, sementara itu Riki dan Dendi secara bergantian menghisap isap memekku,

“ooohh….yah baby suck it …suck…terus tante…oooohhh” angga menikmati permainan permanian lidahku, aku sendiri merasakan kenikmatan yangluar biasa mana kala aku merasakan jari jari dendi dan riki memainkan clitku.
lima menit kemudian angga menarik tubuhku dan memintaku terlentang di sofa, dan mulai lah angga memasukkan kontol nya.

“aaahhh….angga…enak ngga…enak sayang…entot aku ngga” celotehku
“tante memek tante enak….sempit sekali tante…rasanya kontol angga kek di sedot sedot”
“entot aku ngga…terus ngga sodok yang dalem ngga”
“tante…gw mo keluar tante…gw udah g tahan….aaahh…aaahhh…enak tante”
“Jangan ngga…tante masih suka kontol kamu ngga…aaahhh…jangan keluarin dulu ngga” pintaku, tapi angga keburu menyemprotkan pejuh nya.
“aaaaahhhhhhhh………aaaaaahhhh……..aaah…aa hh…” erang angga
“sorry tante…angga g kuat nahan tante…udah dari tadi sih tante”jawab angga
aku kecewa rasanya karena memekku masih ingin merasakan sodokan sodokan kontol angga yang besar dan panjang itu.

” Dendi ayo donk sayang…fuck me…memek tante masih pengen kontol lagi ayo…” pintaku ke Dendi yang dari tadi coli sendiri. kemudian Dendi mendekatiku dan mulai memasukkan penis nya yang tak seberapa besar ukuranya. sementara Riki memintaku mengoralnya.
“oh ya…ooohhh….yah…yah…entot tante Den…yaah…terus Den” ocehku
“tante goyang tante…yah begitu tante …oooohhhh…nikmat tante..enak”
“Ki…kontol lo enak banget….tante suka sekali”

kemudian aku melepas isepanku di kontol Riki ..dan meminta Dendi berhenti, aku berganti posisi, aku meminta Riki duduk di sofa yang kemudian aku naik dan menggoyang nya dari atas, semnetara itu aku meminta Dendi untuk memasukkan kontol nya ke anusku.
“aahkk…pelan pelan Den…tante belom pernah soal nya” pintaku ketika Dendi main sodok aja ke anusku. setelah berulangkali gagal menembus anusku ahirnya masuk juga.
“aaahhh…oooohhh..tante peret sekali…lebih sempit” kata dendi.
“ooohhh….tante memek tante enak sekali”
“ayo sayang…nikmati tubuh tante ini…ayo…aahhh…nikmatin sampai kalian puas” racauku
“ooohhh tante dendi mo keluar…barengan yah tante”
“tahan dulu den…biar barengan ma Riki” pintaku
tiga menit kemudian riki memintaku menggoyang nya lebih cepat
“ayo tante goyang…iya …begitu…terus tante…terus”
“aaaahhhhhh…….ahhk…aaahkk…aaaahhhh” kami bertiga keluar bersamaan, kakiku gemetar menahan kenikmatan itu, sementara Dendi mencabut penis nya dan terkulai di sofa, semnetara aku memeluk erat Riki.

Kami melakukan nya kembali, mereka mengentotku bergantian, payudaraku lengket lengket karena pejuh mereka, sekujurtubuhku terasa bagaikan kena lem lengket dimana mana, tak terasa waktu menunjukan pukul 11 malam, lalu aku bergegas mandi dan meminta angga untuk mengantarku pulang. dalam perjalanan pulang, aku merasakan kepuasan yang tak terhingga, ternyata enak juga ML dengan anak anak muda. mereka lebih rakus lebih dasyat.

nafsu ibu rumah tangga

ebagai seorang Ibu rumah tangga pekerjaan pagi itu sudah aku selesaikan semua. Aku hempaskan diriku di sofa ruang keluarga untuk melihat acara TV pagi itu. Setelah aku pindah-pindah channel TV ternyata nggak ada acara yang menarik. Akhirnya aku putuskan untuk tiduran di kamar tidur.

Setelah merebahkan badanku beberapa lam ternyata mata ini tidak mau terpejam. Rumah yang besar ini terasa sangat sepi pada saat-saat seperti ini. Maklum suami bekerja di kantornya pulang paling awal jam 15.00 sore, sedang anakku yang pertama kuliah di sebuah PTN di Bandung. Anakku yang yang kedua tadi pagi minta ijin untuk pulang sore karena ada acara extrakurikuler di sekolahnya. Sebagai seorang istri pegawai BUMN yang mapan aku diusia yang 45 tahun mempunyai kesempatan untuk merawat tubuh. Teman-temanku sering memuji kecantikan dan kesintalan tubuhku. Namun yang sering membuatku risih adalah tatapan para lelaki yang seolah menelanjangi diriku. Bahkan temen-teman anakku sering berlama-lama bermain di rumahku. Aku tahu seringkali mata mereka mencuri pandang kepadaku.

Rumahku terletak di pinggiran kota S, kawasan yang kami huni belum terlalu padat. Halaman rumahku memang luas terutama bagian depan sedang untuk bagian samping ada halaman namun banyak ditumbuhi pepohanan rindang. Kami membuat teras juga disamping rumah kami. Sedang kamar tidurku dan suamiku mempunyai jendela yang berhadapan langsung dengan halaman samping rumah kami.

Belum sempat memejamkan mata aku terdengar suara berisik dari halaman samping rumahku. Aku bangkit dan melihat keluar. Kulihat dua anak SMP yang sekolah didekat rumahku. Mereka kelihatan sedang berusaha untuk memetik mangga yang memang berbuah lebat. Tentu saja kau sebagai pemilik rumah tidak senang perilaku anak-anak tersebut. Bergegas aku keluar rumah.
Seraya berkacak pinggang aku berkata pada mereka, “Dik, jangan dipetik dulu nanti kalau sudah masak pasti Ibu kasih”.
Tentu saja mereka berdua ketakutan. Kulihat mereka menundukkan wajahnya. Aku yang tadi hendak marah akhirnya merasa iba.
“Nggak apa-apa Dik, Ibu hanya minta jangan dipetik kan masih belum masak nanti kalau sakit perut bagaimana” aku mencoba menghibur.

Sedikit mereka berani mengangkat wajah. Dari dandanan dan penampilan mereka kelihatan bahwa mereka anak orang mampu. Melihat wajah mereka mereka yang iba akhirnya aku mengajak mereka ke dalam rumah. Aku tanya kenapa pada jam-jam belajar mereka kok ada diluar sekolah ternyata pelajaran sudah habis guru-guru ada rapat. Setelah tahu begitu aku minta mereka tinggal sebentar karena mungkin mereka belum dijemput. Iseng-iseng aku juga ada teman untuk ngobrol. Benar dugaanku mereka adalah anak-anak orang kaya, keduanya walaupun masih kecil namun aku dapat melihat garis-garis ketampanan mereka yang baru muncul ditambah dengan kulit mereka yang putih bersih. Yang satu bernama Doni yang satunya lagi bernama Edo.

Ketika ngobrol aku tahu mata-mata mereka sering mencuri pandang ke bagian dadaku, aku baru sadar bahwa kancing dasterku belum sempat aku kancingkan., sehingga buah dadaku bagian atas terlihat jelas. Aku berpikir laki-laki itu sama saja dari yang muda sampai yang tua. Semula aku tidak suka dengan perilaku mereka namun akhirnya ada perasaan lain sehingga aku biarkan mata mereka menikmati keindahan payudaraku. Aku menjadi menikmati tingkah laku mereka kepada diriku.

Bahkan aku mempunyai pikiran yang lebih gila lagi untuk menggoda mereka, aku sengaja membuka beberapa kancing dasterku dengan alasan hari itu sangat panas. Tentu saja hal ini membuat mereka semakin salah tingkah. Sekarang mereka bisa melihat dengan leluasa.
“Hayoo.. pada ngliatin apa!”, Aku pura-pura mengagetkan mereka.
Tentu saja ini sangat membuat mereka menjadi sangat salah tingkah.
“Ti.. dak.. kok.. Bu Nita” Doni membela diri.
“I.. itu acara TV bagus Bu Nita” Edo menambahkan.
“Nggak apa-apa Ibu tahu kalian melihat tetek Ibu to.. ngaku aja” aku mencoba mendesak mereka.
“E.. Anu Bu Nita” Edo nampak akan mengatakan sesuatu, namun belum lagi selesai kalimat yang diucapkannya aku kembali menimpali, “Mama kalian kan juga punya to, dulu kalian kan netek dari Mama kalian”
“I.. ya Bu Nita” Doni menjawab.
“Tapi sekarang kami kan sudah nggak netek lagi, lagian punya Mama lain ama punya Bu Nita” Edo nampaknya sudah mampu menguasai keadaannya.
“Lain bagaimana?” Aku menanyakan.
“Punya Mama nggak sebesar punya Bu Nita” Doni menyahut.

Kata-kata tersebut membuat aku berpikiran lebih gila lagi. Gairahku yang semakin meninggi sudah mengalahkan norma-norma yang ada, aku sudah kehilangan kendali bahwa yang ada di depanku adalah anak-anak polos yang masih bersih pikirannya. Aku menarik kursi kehadapan mereka.
“Doni, Edo kalian mungkin sekarang sudah nggak netek lagi karena kalian sudah besar kalian boleh kok..” aku berkata.
Tentu saja kata-kataku ini membuat mereka penasaran.
“Boleh ngapain Bu Nita” sergah Doni.
“Boleh netek sama Ibu, kalian mau nggak..?” tanyaku walau sebenarnya aku sangat sudah tau jawaban mereka.
“E.. ma.. u” jawab Edo.
“Mau sekali dong” Doni menyahut.

Jawaban mereka membuat aku semakin bergairah. Aku berpikiran hari ini aku akan mendapatkan sensasi dari pria-pria muda ini. Aku duduk dihadapan mereka kemudian dengan agak tergesa aku melepaskan daster bagian atasku sehingga kini bagian atas tubuhku hanya tertutupi BH warna krem. Sepertinya mereka sudah tidak sabaran lagi terlihat dari tangan-tangan mereka yang mulai menggerayangi susuku. Aku menjadi geli melihat tingkah mereka.
“Sabar sayang.. Ibu lepas dulu kutangnya” sambil tersenyum aku berkata.
Setelah aku melepas kutang, tumpahlah isinya, sekarang buah dadaku terbuka bebas. Mata mereka semakin melotot memandangi payudaraku. Tampaknya mereka bingung apa yang harus mereka lakukan.
“Ayo dimulai kok malah bengong” aku menyadarkan mereka.
Mereka bangkit dari duduknya. Tangan mereka kelihatan berebut untuk meremas.
“Jangan rebutan dong.. ah.. Doni yang kiri.. e yang kanan” perintahku.

Birahiku semakin meninggi, sementara Doni sudah mulai mendekatkan bibirnya ke putingku Edo masih membelai sambil dipilin-pilin putingku. Edo mulai mengisap-isap putingku. Oh betapa seakan perasaanku melayang ke awan, apalagi ketika mereka berdua mengisap secara bersamaan nafasku menjadi tersengal. Tanganku membelai kadang agak sedikit menjambak sambil menekan kepala mereka agar lebih dalam lagi menikmati buah dadaku.

Mereka semakin menikmati mainan mereka aku semakin terhanyut, aku ingin lebih dari hanya ini. Aku semakin lupa.
Ketika baru nikmat-nikmatnya tiba-tiba Edo melepaskan isapannya sambil berkata, “Bu Nita kok nggak keluar air susunya?”.
Aku kaget harus menjawab apa akhirnya kau menjawab sekenanya, “Edo mau nggak, kalo nggak mau biar Doni saja.. mau nggak?”
“Mau..” Edo langsung menyahut.
Doni tidak menggubris dia semakin lahap menikmati buah dadaku. Akhirnya aku ingin lebih dari sekedar itu.
“Don.. Edo.. ber.. henti dulu..” aku meminta.
“Ada apa Bu Nita?” Doni bertanya.
“Kita ke kamar saja yuk.. disini posisinya nggak enak” jawabku.
Kemudian aku berdiri tentu saja daster yang aku pakai merosot kebawah. Mata mereka menatap tubuhku yang sintal dengan penuh nafsu.
“Ayo..” aku mengajak.

Aku berjalan ke kamarku hanya menggunakan celana dalam yang berwarna hitam yang kontras dengan kulitku yang putih. Seperti kerbau dicocok hidungnya mereka mengikuti diriku. Sampai di dalam kamar aku duduk di sisi ranjang.
“Don.. Edo.. sayang lepas saja seragam kalian” pintaku.
“Tapi Bu Nita” Edo masih agak ragu.
“Sudahlah turuti saja” aku menyahut.
Dengan malu-malu mereka mulai melepas baju dan celana seragam mereka. Tampaklah kontol-kontol dari pria-pria muda itu sudah ngaceng. Rambut kemaluan mereka tampak belum tumbuh lebat, sedang batang kemaluannya belum tumbuh benar masih agak kecil. Namun melihat pemandangan ini libidoku semakin naik tinggi.
“Bu Nita curang..” Edo berkata.
“Kok curang bagaimana?” aku bertanya.
“Bu Nita nggak melepas celana Ibu!” Edo menjawab.

Gila anak ini, aku tersenyum kemudian bangkit dari dudukku. Celana dalamku kemudian aku lepaskan. Sekarang kami bertiga telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Tatapan mereka tertuju pada benda yang ada dibawah pusarku. Bulu yang lebat dan hitam yang tumbuh menarik perhatian mereka. Aku duduk kembali dan agak meringsut ke rangjang lalu menaikkan kakiku dan mengangkangkannya. Memekku terbuka lebar dan tentu saja terlihat isi-isinya. Mereka mendekat dan melihat memekku.
“Ini namanya memek, lain dengan punya kalian” aku menerangkan.
“Kalian lahir dari sini” aku melanjutkan.
Tangan mereka mengelus-elus bibir kemaluanku. Sentuhan ini nikmat sekali.
“Ini kok ada lobang lagi” Doni bertanya.
“Lho ini kan lobang buat beol” aku agak geli sambil menerangkan.

Jari Doni masuk ke lobang vaginaku dan bermain-main di dalamnya. Cairan-cairan tampak semakin membanjiri liang vaginaku. Sementara jari Edo kelihatannya lebih tertarik lubang duburku. Jari Edo yang semula mengelus-elus lobang dubur kemudian nampaknya mulai berani memasukkan ke lobang duburku. Aku biarkan kenikmatan ini berlangsung.
“Ouw.. a.. duh.. e.. nak.. sekali.. nik.. mat.. sa.. yang.. terr.. us” aku merintih.

Pria-pria muda ini agak lama aku biarkan mengobok-obok lobang-lobangku. Sungguh pria-pria muda ini memberiku kenikmatan yang hebat. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku tanpa bisa berkata-kata hanya rintihan dan nafas yang tersengal-sengal.
Akhirnya aku mendorong mereka aku bangkit dan menghampiri mereka yang berdiri di tepi ranjang. Aku berjongkok dihadapan mereka sambil kedua tanganku memegang diiringi dengan remasan-remasan kecil pada penis mereka. Aku mendekatkan wajahku pada penis Doni aku kulum dan jilati kepala penis muda nan jantan ini. Tampak kedua lutut Doni tergetar. Aku masukkan seluruh batang penis itu kedalam mulutku dan aku membuat gerakan maju mundur. Tangan Doni mencengkeram erat kepalaku. Sementara tanganku yang satu mengocok-kocok kontol Edo.

“Bu Nita.. say.. ya.. ma.. u.. ken.. cing..” Doni merintih.
Tampaknya anak ini akan orgame aku nggak kan membiarkan hal ini terjadi karena aku masih ingin permainan ini berlanjut.
Kemudian aku beralih pada penis Edo. Tampak penis ini agak lebih besar dari kepunyaan Doni. Aku mulai jilati dari pangkal sampai pada ujungnya, lidahku menari di kepala penis Edo. Aku tusuk-tusuk kecil lobang perkencingan Edo kemudian aku masukkan seluruh batang penis Edo. Jambakan rambut Edo kencang sekali ketika aku semakin mempercepat kulumanku.
“Wouw.. a.. ku.. ju.. ga.. mo.. ken.. cing.. nih” Edo merintih.
Aku hentikan kulumanku kemudian aku bangkit dan naik ke atas ranjang lalu aku kangkangkan kakiku lebar-lebar sehingga memekku terbuka lebar.
“Siapa duluan sayang, itu tititnya dimasukkan ke sini” aku berkata sambil tanganku menunjuk ke lobang vaginaku yang nampak sudah basah kuyup.

Mereka berpandangan, tampaknya membuat persetujuan. Dan akhirnya Doni duluan yang akan menusukku. Doni naik ke atas ranjang dan mengangkangiku tampak penis yang tegang mengkilat siap menusuk lobang wanita yang pantas menjadi neneknya. Aku tuntun penis Doni masuk ke lobang kenikmatanku. Aku tuntun pria muda ini melepas keperjakaannya, memasuki kenikmatan dengan penuh kasih. Dan bless.. batang zakar Doni amblas ke dalam vaginaku.
“Ah..” aku mendesis seperti orang kepedasan
“Masukkan.. le.. bih.. da.. lam lagi.. dan genjot.. say.. ang” aku memberi perintah.
“Iya.. Bu Nita.. e.. naak.. se.. kali” Doni berkata.

Aku hanya bisa tersenyum sambil menggigit bibir bagian bawahku. Tampaknya Doni cepat memahami perkataanku dia memompa wanita tua yang ada dibawahnya dengan seksama. Genjotannya semakin lama semakin cepat. Edo yang menunggu giliran hanya tertegun dengan permainan kami. Genjotan Doni kian cepat aku imbangi dengan goyanganku. Dan tampaknya hal ini membuat Doni tidak kuat lagi menahan sperma yang akan keluar.
Dan akhirnya “Sa.. ya.. mo.. ken.. cing.. la.. gi.. Tak.. ta.. han.. la.. gi..” Doni setengah berteriak.
Kakiku aku lipat menahan pantat Doni. Doni merangkul erat tubuhku dan.. cret.. cret.. ser.. cairan hangat membajiri liang kewanitaanku. Doni terkulai lemas diatas tubuhku, butiran-butiran keringat keluar dari sekujur tubuhnya.

“Enak.. se.. ka.. li Bu Nita” Doni berkata.
“Iya.. tapi sekarang gantian Edo dong sayang” aku berkata.
Doni mencabut penisnya yang sudah agak mengempis dan terkapar lemas disampingku.
“Edo sekarang giliranmu sayang” aku berkata kepada Edo .
“Kamu tusuk Ibu dari belakang ya..”aku memberi perintah.
Kemudian aku mengambil posisi menungging sehingga memekku pada posisi yang menantang. Edo naik ke atas ranjang dan bersiap menusuk dar belakang. Dan bless.. penis pria muda yang kedua memasuki lobang kenikmatanku yang seharusnya belum boleh dia rasakan seiring dengan melayangnya keperjakaan dia.

Tampaknya Edo sudah agak bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar dari dia melihat permainan Doni. Edo menggerakkan maju mundur pantatnya. Aku sambut dengan goyangan erotisku. Semakin lama gerakan Edo tidak teratur semakin cepat dan tampaknya puncak kenikmatan akan segera diraih oleh anak ini. Dan akhirnya dengan memeluk erat tubuhku dari belakang sambil meremas susuku Edo mengeluarkan spermanya.. cret.. cret.. lubang vaginaku terasa hangat setelah diisi sperma dua anak manis ini..
Edo terkapar disampingku. Dua anak mengapitku terkapar lemas setelah memasuki dunia kenikmatan.

Aku bangkit dan berjalan ke dapur tanpa berpakaian untuk membuatkan susu biar tenaga mereka pulih. Setelah berpakaian dan minum susu mereka minta ijin untuk pulang.
“Doni, Edo kalian boleh pulang dan jangan cerita kepada siapa-siapa tentang semua ini, kalian boleh minta lagi kapan saja asal waktu dan tempat memungkinkan” aku berkata kemudian mencium bibir kedua anak itu.
Aku memberi uang jajan mereka masing-masing 50.000 ribu.

Dan sampai saat ini mereka telah kuliah, aku masih sering kencan dengan mereka. Aku semakin sayang dengan mereka.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.